Penulis ingin meluahkan buah pikirnya, pengalamannya, juga segala sesuatu yang terjadi disekitarnya yang mampu mengusik nalurinya sebagai manusia yang senantiasa ingin berbenah. Lewat tulisan, penulis ingin berbagi
Kamis, 13 Maret 2014
Maraknya Pencurian Data Usaha
’’ Data-dataku bisnisku diambilnya.......’’
Bersaing dalam bisnis adalah hal biasa dalam dunia perbisnisan. Dari memakai cara yang halus,kasar, sembunyi sampai terang-terangan. Bersaing dalam bisnis sebenarnya bagus asal dengan cara yang sehat. Persaingan itu perlu sebagai gesekan untuk maju. Masalahnya, bagaimana kalau persaingan yang terjadi tidak sehat?
Banyak cara yang dilakukan para pembisnis dalam memajukan usahanya apapun bentuk usahanya, apalagi sekarang tehnologi semakin canggih. Ada yang memakai kecanggihan tehnologi untuk berkembang dan tidak sedikit menggunakannya untuk membobol sebuah data.
Bila pembobolan data itu terjadi pada bisnis Anda, apakah yang akan Anda lakukan? Apakah Anda perlu panik? Marah-marah?.Tunding sana tunding sini? Kalau iya, apakah yang akan Anda peroleh dari sikap yang demikian? Apakah lantas bisnis Anda mencuat bak meteor?
Yah! Dunia bisnis penuh dengan intrik-intrik yang kadangkala membuat pelakunya kehilangan kendali. Dunia bisnis penuh persaingan. Persaingan yang harus diselesaikan dengan cara sehat dan sikap itu hanya dimiliki oleh orang-orang yang sadar dan memahami akan bisnis yang dijalaninya. Bukan bisnis yang asal-asalan saja. Apalagi bisnis yang sekedar ikut-ikutan dengan mengandalkan aji mumpung. Tentunya, sebelum ia menjalankan bisnis, ia punya gambaran (baca : map road) mau dibawa kemana bisnis tersebut. Sehingga ketika bisnisnya belum berkembang atau sedang dihadang masalah, ia akan segera mencari letak permasalahannya dan berupaya mengatasinya.
Dari tersendatnya bisnis, ia menata segala sesuatu yang berkenaan dengan bisnisnya. Pantang menyerah. Ia yakin bahwa ada solusi bagi kemajuan bisnisnya. Mencari cara-cara untuk meningkatkan omset/penghasilan. Terus belajar untuk hasil yang memuaskan baik dari segi penampilan, cara promo, kualitas produk, management keuangannya dll. Inilah sikap pembisnis sejati. Ia tahu bagaimana mengembangkan binsnisnya dengan cara sehat. Bagaimana bisnisnya tetap up to date. Bagaimana menjaga hubungan baik dengan pelanggannya.
Berbeda dengan sikap pelaku bisnis yang membangun bisnisnya hanya bermodalkan aji mumpung, anut grubyuk apalagi yang mengawalinya dengan cara tidak benar, ( baca : curang ) semacam mencuri data-data penting. Sepanjang ia menjalankan bisnisnya, akan diburu rasa bersalah dan tidak akan bertahan lama. Karena bisnis itu harus dijiwai bukan sekedar dipelajari. Disamping itu, hukum alam akan berbicara. Apa yang kita tanam, itu pula yang akan kita petik. Kalaupun mendapat untung dari bisnis yang dilakoninya, itu bersifat sementara saja.
Seandainya kita adalah salah satu orang kunci pada sebuah bisnis, dan kita tertarik untuk menjalankannya, apakah yang harus kita lakukan? Bisa.dengan mengajukan diri menjadi agen cabangnya, ikut investasi didalamnya laly bersama-sama membesarkannya. Ini salah satu cara sehat dan aman. Apakah salah kalau kita ingin berdikari membuka bisnis sendiri? Tidak ada pelarangan asal dengan cara yang benar bukan dengan jalan membobol data perusahaan/bisnis. Ini sama juga dengan pencurian.
Dimuat Koran Berita Indonesia, Edisi Maret 2014
Kamis, 06 Maret 2014
Tentang Program Tour Study Magang
Pelaksanaan
Mengkoordinir BMI yang kebetulan pulang cuti ke Tanah Air untuk mengikuti program magang di Tegal Waru Bogor selama 14-30 hari (dikondisikan) untuk hasil optimal. Dilaksanakan bergelombang dan tiap gelombang diikuti minimal 10-15 orang, maksimal 50 orang.
Alumni magang yang berminat membuka usaha dikumpulkan dan dikoordinir dalam satu wadah untuk memudahkan memonitor perkembangan mereka.
Dibentuk kelompok belajar sebagai ajang diskusi, konsultasi dan menemukan terobosan-terobosan baru juga membentuk support sistem dengan mengadakan pelatihan.
Tetapi pada umumnya BMI hanya mendapat jatah waktu cuti antara 14-21 hari dan paling lama 30 hari. Dan waktu itu digunakan untuk agenda temu kangen keluarga.
Namun apalah arti dari temu kangen itu kalau akhirnya berpisah kembali dalam kurun waktu yang tidak bisa ditentukan karena BMI tersebut tidak tahu apa yang akan dikerjakan bila mengakhiri kontrak kerjanya. Dan temu kangen tersebut selalu dijadikan ajang menghamburkan uang dengan alasan demi membahagiakan keluarga. Tak jarang BMI rela berhutang ke Bank hanya untuk temu kangen ini. Sekembalinya dari Tanah Air, gaji digunakan untuk membayar hutang. Kesenangan sesaat yang menyesatkan dan menyengsarakan. Acara temu kangen menjadi bumerang bagi BMI itu sendiri.
Menghadapi fenomena seperti ini, program Tour study Magang bisa diarahkan untuk keluarga BMI, tidak perlu menunggu BMI pulang. BMI ataupun keluarganya sama saja. Ada banyak keuntungan bila program ini terwujud, di antaranya :
BMI bisa membuka usaha yang dijalankan oleh keluarga sehingga gajinya tidak menguap kemana-mana.
Mendidik dan memberdayakan keluarga BMI agar juga bertanggungjawab meningkatkan pendapatan keluarga tidak menjadi benalu mengandalkan penghasilan BMI.
BMI berani mengambil keputusan pulang ke Tanah Air karena sudah punya usaha yang dijalankan dengan penuh pertimbangan oleh keluarga. Bukan usaha yang sekedar ikut-kutan seperti yang selama ini terjadi pada keluarga BMI yang pada akhirnya menyisakan trauma untuk bangkit lagi.
Dengan adanya azas kebersamaan, dipastikan setiap kelompok akan saling membantu bagaimana semua usaha yang dijalankan bisa berhasil karena cara kerjanya tidak sendiri tetapi gotong- royong.
Persiapan
Untuk memudahkan perjalanan, akan dipilih rute-rute yang akan dilewati kendaraan yang akan dipakai. Start awal dari kota Malang. Bagi peserta Tour Study Magang bisa menunggu di pos-pos yang ditunjuk misal terminal yang searah dengan rute perjalanan. Menerima peserta dari berbagai daerah di Jawa Timur, seperti Blitar, Madiun, Kediri, Ponorogo dll.
Untuk persiapannya, dibutuhkan kendaraan dan penginapan. Semua kebutuhan ini bisa dikalkulasikan per orangnya berapa rupiah nantinya. Cara pendaftaran dan pembayaran sementara waktu di Hong Kong karena semua tim masih di sana.
~ Tim OVM~
Tentang Program Tour Study Magang
Perencanaan
Sebagai peserta dan penyelenggara pelatihan berbasis self development di Hong Kong, One Vision Management mencoba merancang sebuah program perberdayaan berbasis pendidikan yang dipadukan dengan tafakur alam serta memasukan unsur kewirausahaan yang kami beri nama Tour Study Magang . Diperuntukkan untuk siapa saja yang ingin serius membuka usaha dan dikhususkan untuk keluarga BMI agar mereka bisa segera kembali ke Tanah air mencurahkan potensinya.
Berbagai bentuk pelatihan yang mereka ikuti mengasah SDM dan ini tidak boleh lama-lama dibiarkan menganggur. Indonesia kaya akan SDA tapi miskin di SDM. Program ini dibentuk sebagai wadah dan sarana BMI tetap belajar dan berkarya dengan mengusung azas kebersamaan bukan perorangan, dari BMI untuk BMI.
Kami melihat ada alumni pelatihan Hong Kong yang telah membuka usaha namun bersifat individual sedangkan ikatan batin antar BMI semasa mereka bekerja di Luar Negeri demikian eratnya. Kenapa tidak dimanfaatkan? Selain membina tali silaturohmi, usaha yang dijalankan akan lebih mudah diarahkan ketika mendapat kendala.
~ Tim OVM~
Sebagai peserta dan penyelenggara pelatihan berbasis self development di Hong Kong, One Vision Management mencoba merancang sebuah program perberdayaan berbasis pendidikan yang dipadukan dengan tafakur alam serta memasukan unsur kewirausahaan yang kami beri nama Tour Study Magang . Diperuntukkan untuk siapa saja yang ingin serius membuka usaha dan dikhususkan untuk keluarga BMI agar mereka bisa segera kembali ke Tanah air mencurahkan potensinya.
Berbagai bentuk pelatihan yang mereka ikuti mengasah SDM dan ini tidak boleh lama-lama dibiarkan menganggur. Indonesia kaya akan SDA tapi miskin di SDM. Program ini dibentuk sebagai wadah dan sarana BMI tetap belajar dan berkarya dengan mengusung azas kebersamaan bukan perorangan, dari BMI untuk BMI.
Kami melihat ada alumni pelatihan Hong Kong yang telah membuka usaha namun bersifat individual sedangkan ikatan batin antar BMI semasa mereka bekerja di Luar Negeri demikian eratnya. Kenapa tidak dimanfaatkan? Selain membina tali silaturohmi, usaha yang dijalankan akan lebih mudah diarahkan ketika mendapat kendala.
~ Tim OVM~
Tentang Program Tour Study Magang
Pendahuluan
Seiring dengan kesadaran BMI akan pentingnya pendidikan untuk mencapai sebuah perubahan, maka bermuncullah berbagai bentuk pelatihan, kursus,sekolah,kuliah yang tentunya disesuaikan dengan kondisi BMI yang nota bene libur satu kali seminggu.
Berbagai materi,kiat-kiat, strategi untuk sebuah perubahan diberikan kepada peserta didik. Pelatihan itu sendiri bermacam bentuknya, dari yang gratis sampai diharuskan membeli tiket masuk untuk biaya pengadaan pelatihan. Apapun latar belakang diadakannya pelatihan itu, yang pasti kesadaran BMI akan pendidikan patut diacungi jempol.
Namun sayangnya, pelatihan itu belum memberikan hasil yang optimal karena masih banyak BMI yang masih takut, ragu untuk melangkah mengaplikasikan ilmu yang didapatnya. Mengubah paradigma/mindset itu sangat penting, namun fakta di lapangan telah membuktikan tidak cukup dengan itu saja. Masih banyak hal lain yang dibutuhkan oleh mereka, seperti: pendampingan dan bimbingan ketika mereka ingin menerjuni sebuah usaha.
Bicara di atas kertas memang mudah tapi penerapan di lapangan tidak semudah itu. Dibutuhkan kesungguhan dan ketelatenan. Apalagi kondisi alam di Indonesia tidak seperti di Hong Kong. Contoh kecil : jarak dan transportasi.
Alhasil, walau mereka telah dicekoki berbagai pemikiran baru, tetap saja belum berani melangkah. Kalaupun ada yang terjun ke lapangan, jumlahnya tak sebanding dengan jumlah BMI yang masih bertahan di Hong Kong.
~Tim OVM~
Seiring dengan kesadaran BMI akan pentingnya pendidikan untuk mencapai sebuah perubahan, maka bermuncullah berbagai bentuk pelatihan, kursus,sekolah,kuliah yang tentunya disesuaikan dengan kondisi BMI yang nota bene libur satu kali seminggu.
Berbagai materi,kiat-kiat, strategi untuk sebuah perubahan diberikan kepada peserta didik. Pelatihan itu sendiri bermacam bentuknya, dari yang gratis sampai diharuskan membeli tiket masuk untuk biaya pengadaan pelatihan. Apapun latar belakang diadakannya pelatihan itu, yang pasti kesadaran BMI akan pendidikan patut diacungi jempol.
Namun sayangnya, pelatihan itu belum memberikan hasil yang optimal karena masih banyak BMI yang masih takut, ragu untuk melangkah mengaplikasikan ilmu yang didapatnya. Mengubah paradigma/mindset itu sangat penting, namun fakta di lapangan telah membuktikan tidak cukup dengan itu saja. Masih banyak hal lain yang dibutuhkan oleh mereka, seperti: pendampingan dan bimbingan ketika mereka ingin menerjuni sebuah usaha.
Bicara di atas kertas memang mudah tapi penerapan di lapangan tidak semudah itu. Dibutuhkan kesungguhan dan ketelatenan. Apalagi kondisi alam di Indonesia tidak seperti di Hong Kong. Contoh kecil : jarak dan transportasi.
Alhasil, walau mereka telah dicekoki berbagai pemikiran baru, tetap saja belum berani melangkah. Kalaupun ada yang terjun ke lapangan, jumlahnya tak sebanding dengan jumlah BMI yang masih bertahan di Hong Kong.
~Tim OVM~
Langganan:
Komentar (Atom)