Rabu, 13 Maret 2013

Aku Malu Padamu Tuhan


Salah satu buku favorit saya adalah buku diskusi tasawuf modern karya Agus Mustofa. Penulis ini banyak membahas ayat-ayat suci Al-qur'an dengan bahasa yang mudah dipahami dan contoh-contoh konkrit kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Entah buku yang ke berapa, saya lupa. Yang pasti, saya memang mengoleksi buku karya Agus Mustofa. Dari buku tasawuf ini, saya banyak mendapatkan ilmu, wawasan dan pengetahuan, bahkan jawaban dari sebuah pertanyaan yang bertahun-tahun lalu saya sering pertanyakan. Siapa sangka, dari hanya sekedar membaca buku, solusi itu saya dapatkan.

Agus Mustofa selalu mengajarkan dalam setiap judul bukunya, bahwa belajar itu ada dua cara, yaitu belajar pada ayat-ayat Qauliyah dan ayat-ayat Kauniyah. Tidak mudah pada awalnya untuk memahami kalimat ini. Butuh pengulangan berkali-kali agar mengerti. Ternyata, untuk memahami sesuatu memang dibutuhkan proses, bukan "mak cling" langsung paham. Terkadang, kita  harus mengalami sendiri kejadian yang bisa membuat [baca: menuntun] kita pada sebuah pemahaman. Sungguh salah kaprah [meminjam bahasa Agus Mustofa], kalau kita hanya membaca sekali lalu merasa sudah tahu. Tahu belum tentu mengerti. Mengerti belum tentu paham!

Pada salah satu judul buku "Bersatu Dengan Allah", saya mendapati berkali kalimat " Allah dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita". Awalnya hanya menjadi sebuah pengetahuan saja, sekedar tahu! Bahwa Allah itu dekat! Namun kenapa kedekatan itu tidak membawa dampak apa-apa? Sering kali saya masih merasa "sendiri".Benarkah saya sendirian di dunia ini? Tidak!

Saya punya teman, orang tua, anak, mitra kerja dll. Tetapi saya masih merasa sendiri. Apalagi disaat menghadapi banyak problema yang mau tak mau harus diselesaikan, bahkan terkadang sangat menguras energi baik lahir maupun batin. Mungkin ada di antara Anda yang merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan?

Akhirnya, saya menemukan jawabannya setelah sekian lama mencari jawaban kenapa saya "masih" sering merasa sendiri. Jawabannya adalah karena saya tidak "sepenuhnya" menyerahkan hidup saya pada Tuhan.
Saya masih menempatkan hal lain untuk kepengurusan hidup saya. Padahal, hidup mati dan apa yang saya miliki, bahkan diri saya sendiri adalah hak Tuhan. Milik Tuhan, yang kelak akan diambil kembali. Saya malu padan Mu Tuhan.

Malu pada keegoan diri. Malu pada kesombongan diri. Malu bahwa saya masih menyerahkan kepengurusan hidup dan kehidupan saya diluar diri Mu. Betapa angkuhnya saya. Betapa angkuhnya manusia.



Selasa, 12 Maret 2013

Tuliskan Dan Komunikasikan

Satu bahasan materi yang sangat menarik, ketika saya mengikuti sebuah pertemuan. Menuliskan tujuan bekerja di Hong Kong lalu mengkomunikasikannya kepada orang-orang dekat, seperti orang tua, suami, anak atau saudara. Sayangnya, justru di sinilah letak kendalanya. Siapa yang tidak tahu BMI Hong Kong sih? Setiap Minggunya sibuk dengan segudang aktivitas. Bermacam-macam agenda diikuti sampai kadang untuk makan saja tidak punya waktu.

Acungan jempol buat BMI Hong Kong! Kalau masih ada masyarakat yang berpikir negatif tentang BMI Hong Kong, itu artinya, mereka hanya melihat dari satu sisi saja.
Melakukan berbagai aktivitas memang bukan untuk dilihat orang lain agar terlihat wah, tetapi lebih pada kebutuhan agar diri kita bisa memiliki kualitas yang terus meningkat. Baik dari ilmu pengetahuan, wawasan, pengalaman dan skill. Bisa menjadi bekal ketika pulang ke Tanah Air. Bukan untuk gagahan," Ini lho aku sudah ikut training ini, punya sertifikat ini, berkenalan dengan ini".
Tetapi lebih pada untuk direalisasikan pada kehidupan kita sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar.

Sebuah impian yang mulia. Sebuah rencana yang baik. Segampang itukah? Tidak! Ternyata banyak tantangan yang harus dihadapi yang datangnya justru dari orang-orang terdekat kita. Yang terjadi akhirnya sedih dan kecewa bahkan putus asa. Memang tidak mudah menfkomunikasikan impian kepada orang yang cara berpikirnya berbeda dengan kita, namun solusi pasti ada.