Senin, 25 November 2013

Terjerat Taktik Bisnis



“Ini jumlah tagihan tiap bulan yang harus dibayar karena sudah tidak pakai kontrak. Jadi ini adalah tagihan aslinya. Kalau pakai kontrak hanya HK$ 191 kalau tidak pakai kontrak jadi HK$ 414 tiap bulannya…..”

Menjamurnya jaringan seluler di Hong Kong memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang lain baik via telepon,sms atau internet. Selain murah, pelayanan cepat dan signal lancar tentu kita sebagai pengguna sangat diuntungkan. Saat aplikasi cukup menyerahkan ID HK dan alamat rumah dimana kita tinggal. Mau berselancar di internet selama 24 jam, okay-okay saja. Benarkah ini menguntungkan kita?
Tunggu dulu! Sepintas terkesan mudah dan menguntungkan, tetapi setelah mengetahui banyak kasus terjadi menimpa pengguna jaringan seluler yang nota bene orang Indonesia, berubah menjadi momok yang menakutkan. Bagaimana tidak,, mereka terpaksa membayar puluhan bahkan ribuan dolar kepada salah satu jaringan seluler tersebut hanya karena masalah sepele. Misalnya : tidak memberitahukan perpanjangan pemakaian setelah kontrak yang disepakati ketika aplikasi berakhir.
Tidak ada kata ampun dan cela untuk menghindar dari kejaran jaringan seluler tersebut dengan mengirim tagihan-tagihan tiap bulan ke alamat dimana kita tinggal. Mungkin sebagian dari kita bisa mengelak dengan membiarkan tagihan-tagihan itu dating dengan bermacam akal, terlepas dia salah atau tidak. Namun faktanya, banyak juga yang terpaksa membayar entah karena takut diketahui majikannya bahwa ia sedang berkasus atau karena rasa tanggungjawab.
Seperti contoh kasus di atas, seorang pemakai sebuah jaringan seluler harus membayar denda padahal ia tidak melakukan kesalahan apapun dengan jaringan seluler tersebut. Setiap bulan ia tertib membayar tagihan pemakaian lalu mengumpulkan tanda bukti pembayaran karena ia sadar, segala sesuatu yang berhubungan dengan intansi dan biodata orang lain harus hati-hati. Bila ada masalah, bukti yang ada bisa menjadi tameng pembelaan diri. Inilah senjata melawan aturan di Hong Kong.
Sayangnya, bukti-bukti yang ia kumpulkan tak ada gunanya karena kasus yang ia hadapi tidak membutuhkannya. Kasusnya bukan berasal darinya tetapi dari temannya yang mendaftarkan diri sebagai pemakai dari jaringan seluler tersebut lalu ia terlupa memberitahukan masa berakhir kontraknya karena kesibukan yang menyita. Sedang si pemakai tidak mengerti perihal itu.
Memakai jaringan seluler telepon yang menggunakan kontrak kerja ada batasan waktu. Sama seperti kontrak kerja dengan majikan. Kalau mau tambah kontrak harus laporan dan bila tidak laporan, maka status legal menjadi illegal yang lebih dikenal dengan sebutan overstay.
Dalam dunia jaringan seluler tidak ada istilah overstay yang ada adalah penagihan denda memakai tanpa pemberitahuan lalu membayar tagihan bulanan yang nilainya melangit dipakai ataupun tidak. Mengerikan bukan? Kita sudah capek bekerja bahkan mungkin berhemat untuk menabung, terpaksa harus mengeluarkan uang juga.
Kawan, hikmah dari kejadian ini adalah, kita harus berhati-hati dalam urusan yang memakai biodata seperti IDHK, alamat kerja baik milik pribadi apalagi milik orang lain. Kita juga harus tahu seluk beluk peraturannya dengan detail sehingga bila ada masalah, kita bisa segera menyelesaikannya. Kita harus teliti dan mengingat kapan masa berakhirnya kontrak kita. Jangan mudah terhanyut promo-promo yang menggiurkan karena itu hanya taktik berbisnis. Dan yang paling penting, pakailah biodata pribadi untuk memudahkan kita mengecek jangka waktu pemakaian. Jangan memakai biodata orang lain walau teman akrab sekalipun. Karena yang namanya lupa, tidak bisa dihindarkan. Permasalahannya, bukan masalah kita bisa dipercaya tidaknya, kita orang yang bertanggungjawab tidaknya, tetapi lebih pada menjaga keuangan, kehati-hatian, kedisiplinan dan hubungan pertemanan. Tidak semua orang mau merugi bukan?


Dimuat Koran Berita Indonesia. Edisi. November 2013




Sabtu, 19 Oktober 2013

Cara BMI Memecahkan Masalah


“Menemani sidang temen di pengadilan Kwung Tong. Karena sering dimarahi dan dipukul

majikan, maka ia disarankan oleh seseorang agar majikan jadi baik dengan mencampuri minuman dengan air kencing. Hasilnya sangat mujarab, karena langsung dilaporkan ke polisi dan lanjut ke persidangan. Menjadi pelajaran bagi kita semua, untuk selalu mencari saran dari orang yang benar, sehingga solusinya adalah kepada Allah bukan ajaran dukun yang merugikan secara aqidah Islam karena syirik dan sekaligus rugi dunia….”

Sebuah status yang saya baca di fesbuk, sangat menggelitik hati sekaligus juga prihatin. Dijaman canggih dan hidup dalam kota metropiltan seperti Hong Kong masih saja mempercayai hal-hal seperti itu.  Bagaimana mereka bisa melakukan tindakan yang justru mencemarkan citra diri ? 

Saya yakin, tidak ada satu agamapun yang mengajarkan ummatnya untuk melakukan perbuatan tercela meskipun dalam keadaan terjepit. Semua agama pasti mengarahkan pengikutnya untuk melakukan tindakan positif dalam keadaan terjepit sekalipun. Karena dibalik kesulitan ada kemudahan. Kesulitan datang beserta solusinya. Tugas kita hanya mencarinya dengan cara yang benar baik secara agama maupun tatanan masyarakat.

Hidup di Negara bebas seperti Hong Kong memang rentan dengan pengaruh luar yang kuat. Bila kita tidak bisa menyaring segala informasi yang datang dari sekitar kita, maka tidak menutup kemungkinan akan mudah terpengaruh. Sangat penting memilih teman dan memasuki komunitas yang benar. Bila kita asal-asalan bergaul, lambat laun kita akan terseret pola pergaulan asal-asalan pula. Kita tidak punya filter untuk menyaring mana yang baik dan buruk, mana yang salah dan benar, apalagi ketika jiwa dan pikiran kita masih labil.

Teman dan lingkungan (baca: komunitas) di Hong Kong menjadi tempat kedua setelah rumah majikan buat kita membangun habit karena apapun yang sering kita dengar dan lihat akan tertanam dalam pikiran kita dan bisa menjadi sebuah program. Bukankah sebelum kita melakukan sebuah tindakan kita pasti memikirkannya dulu? Tindakan tidak datang serta merta  selalu didahului dengan memikirkannya.

Kawan, mengakhiri catatan kecil ini, saya ingin menyampaikan bahwa semua masalah yang kita hadapi dalam hidup ada jalan keluarnya. Masalah itu adalah sarana pendewasaan diri dalam memahami arti hidup dalam kehidupan. Tanpa masalah, kita tidak akan tahu apa-apa. Bila kita dapat masalah, yang harus selalu kita ingat adalah bagaimana kita bisa mengelola emosi yang menyertainya. 

Dimuat Koran Berita Indonesia Edisi September 2013

Rabu, 17 Juli 2013

Hutang Oh Hutang

“ Selama 18 tahun bekerja di Hong Kong, baru kali ini saya ditipu orang dan jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Saya tidak menyangka, orang yang saya percaya dan sudah saya anggap seperti saudara sendiri tega menipu saya……”
Inilah diskusi saya dengan salah seorang kawan BMI yang baru saja tertimpa musibah.  Walau sering dimuat dalam media tentang hutang piutang, ternyata korban masih berjatuhan juga.
Adakah di antara anda yang bekerja tetapi menerima gaji hanya selintas saja? Harus memendam segala keinginan karena tidak ada uang yang tersisa? Stres karena merasa berdosa tidak bisa kirim uang pada keluarga? Kemana larinya uang itu? Bayar hutang! Ya tidak apa-apa dong, karena hutang harus dibayar.
Kalau kita berhutang untuk kebutuhan sendiri, mungkin ini suatu hal yang” lumrah”. Bila kita merasa tak nyaman dengan hutang, tinggal mengubah pola pikir dan pola hidup. Tetapi bagaimana kalau kita harus membayar hutang orang lain yang tidak ada sangkut paut keluarga dengan kita hanya karena kita merasa “senasib sepenanggungan” di rantau?
Nah! Kawan, seringkali kita mendengar permasalahan hutang piutang yang berakibatnya putusnya sebuah pertemanan/hubungan karena salah satu pihak tidak bertanggungjawab. Seharusnya ini bisa menjadikan kita lebih bijaksana terhadap diri sendiri dalam memaknai sebuah persahabatan.  Kebanyakan dari kita terjebak rasa “ pekewuh” terhadap teman sehingga kita mau saja melakukan apa saja yang diminta. Kita takut dikatakan pelit, tidak sehati, tidak welas asih, tidak setia kawan dan sejenisnya.
Hati-hatilah! Ingat selalu dengan tujuan kita ke rantau ini untuk memperbaiki kehidupan. Baik dari segi finansial, ilmu pengetahuan, pengalaman dan keahlian. Buat diri sendiri dan keluarga.  Bijaklah dalam menyingkapi setiap pergaulan. Pandailah memilih dan memilah karena kita tidak tahu isi hati manusia. 
Bagaimana caranya? Tingkatkan pengetahuan diri, bisa dengan membaca buku positif, ikut pertemuan dll.  Semua dapat kita peroleh dengan mudah di rantau ini. Tinggal kita mau apa tidak melakukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan diri. Hidup adalah pilihan!
Lalu buat pembukuan keuangan ( keluar masuknya) uang setiap bulannya dan buat planning ke depan dengan keuangan kita. Dengan perencanaan yang sangat ketat dan kedisiplinan diri, kita bisa mengatur keuangan   kita. Pandai-pandailah dalam memilih teman dan memasuki lingkungan karena teman dan lingkungan mampu mempengaruhi kita. Apalagi kalau pada dasarnya kita belum punya pengalaman sama sekali dengan segala hal yang ada di rantau, akan menjadi sasaran empuk orang-orang  yang memiliki niat buruk.
Uang memang  bukan segala-galanya dalam hidup tetapi segala-galanya butuh uang bukan?  Mau beli makanan, beli baju, pergi liburan, datang ke pertemuan, biaya sekolah anak, ada yang sakit, menelepon dan masih banyak lagi, semua butuh uang. Semua pakai uang. Kitalah yang berkewajiban dengan masuk keluarnya uang kita.

Urusan pinjam meminjam memang tidak bisa dihindari dalam sebuah persahabatan karena kita adalah makhluk sosial yang akan senantiasa berhubungan dengan yang lain. Tugas kita adalah bijak dalam segala urusan apalagi uang. Karena uang yang sudah ada di tangan orang lain, sepenuhnya bukan menjadi milik kita lagi. Masih untung kalau kembali. Lalu, bagaimana kalau tidak kembali? 


* Dimuat Koran Berita Indonesia Hong Kong*

Senin, 01 Juli 2013

Terjebak Persepsi Diri

Ketika kita menginginkan sesuatu kadang kita lupa mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi. Kita begitu semangat untuk meraihnya walau kita tidak tahu itu apa dan siapa. Kita hanya tahu bahwa kita ingin mendapatkannya. Itu saja!

Manusia identik dengan keinginan bahkan bermacam-macam. Baik itu negatif atau positif. Merugikan atau menguntungkan. Lebur dalam gelombang keinginan. Tugas kita untuk memilahnya agar kita dapat memilih mana yang terbaik buat kita.

Keinginan akan membuat kita memiliki semangat dalam hidup. Keinginan mampu menjadi mesin penggerak kita bertindak. Dan untuk meraihnya, kita perlu mempersiapkan diri menghadapi segala sesuatunya. Karena kita tidak tahu di depan ada apa. Bukan berarti kita harus melakukan sesuatu menunggu semuanya sempurna tetapi setidaknya punya persiapan.

Keinginan kita dengan segala kriteria yang ada bukanlah sebuah keputusan mutlak. Kriteria dibuat agar kita bisa lebih memfokuskan pikiran dengan keinginan. Agar kita tidak ceroboh dalam bertindak karena setiap tindakan mengandung resiko yang mau tidak mau ,terpaksa atau rela, suka atau benci, tahu atau tidak tahu  ada pertanggungjawaban.

Oleh sebab itu kita harus bijak menyingkapi diri sendiri, tepatnya menyingkapi keinginan diri. Jangan karena keinginan tadi kita terjebak dengan persepsi diri yang sempit yang membuat kita menderita. Persepsi diri yang sempit sangat merugikan  kemajuan hidup bahkan menjauhkan kita dari sebuah pencapaian. Yang harus kita lakukan agar tidak terjebak persepsi diri yang sempit adalah memperluas persepsi kita. Persepsi terhadap diri sendiri, persepsi terhadap orang lain, persepsi terhadap situasi dan kondisi.

Hidup Penuh Dengan Kejutan

Dalam minggu-minggu ini banyak kejutan yang tak terduga. Kejutan yang membuat hati sedih, merasa kehilangan, keharuan dan sekaligus sebuah peringatan juga pembelajaran bagiku sebagai manusia yang diciptakan Tuhan dengan tujuan. Berpulangnya seorang sahabat, teman dan saudara seiman.
Ada duka yang begitu dalam aku rasakan dan ternyata rasa ini juga dirasakan orang lain. Kenapa?
Bertemupun tidak? Bicarapun seperlunya saja. Setelah aku merenung, ku temukan jawaban : akhlak.

Akhlak yang mampu mempererat hubungan silaturohmi di antara kami. Akhlak yang mengingatkan hati kami dengan sendirinya. Akhlak yang menumbuhkan cinta kasih begitu deras bak air terjun yang akan mengalir airnya terus menerus. Akhlak yang menguatkan ikatan batin yang mampu menguras airmata.

Kejutan berikutnya membuatku geleng kepala tak habis pikir. Ini nyata atau mimpi? Tak pernah menyadari hadirnya sesuatu yang ada di sekeliling dan ketika itu diutarakan, membuatku bengong. Ini nyata atau mimpi?
Ya, begitulah manusia, banyak yang tidak peka terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, meski itu terjadi padanya.

Kejadian-kejadian dalam minggu ini menyadarkannku bahwa hidup ini penuh dengan kejutan. Siapkah kita?


Rabu, 01 Mei 2013

Kehidupan

Sadar sesadarnya bahwa untuk mendapatkan sebuah hasil selalu ada proses yang harus dilalui, baik suka maupun duka, diinginkan ataupun tidak. Tidak bisa ditawar lagi, sudah melekat dan harus dijalankan. Apapun bentuk dan namanya.

Dalam pencapaian sebuah harapan, dibutuhkan banyak hal bahkan harus senantiasa siap terpuruk! Sedih, kecewa, marah, khawatir pasti ada. Rasa-rasa yang selalu mewarnai kehidupan anak manusia. Rasa-rasa yang menjadi dasar sebuah tindakan baik negatif maupun positif, halal maupun haram.

Pro dan kontra, saling menyudutkan, menyalahkan ataupun berdiskusi mencari solusi adalah  bumbu  sebuah proses  pencapaian dan pencarian. Ego-ego dalam diri bermunculan.Semua bisa menjadi kacau ketika tak mampu lagi mengendalikan.

Ketika pencapaian tak sesuai harapan, ada api yang bergemuruh dalam dada, ada gelombang ombak yang datang bergulung siap menelan apa saja. Pertandingan tengah dimulai. Baku hantam dalam diri tengah seru bergema.

Oh....kehidupan. Engkau tetap berjalan. Engkau tetap gagah berjalan dengan perkasa. Engkau tak peduli apapun rasa, ego yang bergejolak dalam dada. Yang engkau tahu, jalan!
Yah, kehidupan terus berjalan. Kehidupan terus bergerak. Kehidupan memang edentik dengan gerak. Siapa yang hanya diam, siaplah untuk tenggelam. Siapa yang acuh pada kehidupan, siaplah untuk terombang-ambingkan dan siapa yang peduli pada kehidupan, siaplah menaiki panggung kemenangan.

Rabu, 13 Maret 2013

Aku Malu Padamu Tuhan


Salah satu buku favorit saya adalah buku diskusi tasawuf modern karya Agus Mustofa. Penulis ini banyak membahas ayat-ayat suci Al-qur'an dengan bahasa yang mudah dipahami dan contoh-contoh konkrit kehidupan sehari-hari di masyarakat.
Entah buku yang ke berapa, saya lupa. Yang pasti, saya memang mengoleksi buku karya Agus Mustofa. Dari buku tasawuf ini, saya banyak mendapatkan ilmu, wawasan dan pengetahuan, bahkan jawaban dari sebuah pertanyaan yang bertahun-tahun lalu saya sering pertanyakan. Siapa sangka, dari hanya sekedar membaca buku, solusi itu saya dapatkan.

Agus Mustofa selalu mengajarkan dalam setiap judul bukunya, bahwa belajar itu ada dua cara, yaitu belajar pada ayat-ayat Qauliyah dan ayat-ayat Kauniyah. Tidak mudah pada awalnya untuk memahami kalimat ini. Butuh pengulangan berkali-kali agar mengerti. Ternyata, untuk memahami sesuatu memang dibutuhkan proses, bukan "mak cling" langsung paham. Terkadang, kita  harus mengalami sendiri kejadian yang bisa membuat [baca: menuntun] kita pada sebuah pemahaman. Sungguh salah kaprah [meminjam bahasa Agus Mustofa], kalau kita hanya membaca sekali lalu merasa sudah tahu. Tahu belum tentu mengerti. Mengerti belum tentu paham!

Pada salah satu judul buku "Bersatu Dengan Allah", saya mendapati berkali kalimat " Allah dekat dengan kita, bahkan lebih dekat dari urat leher kita". Awalnya hanya menjadi sebuah pengetahuan saja, sekedar tahu! Bahwa Allah itu dekat! Namun kenapa kedekatan itu tidak membawa dampak apa-apa? Sering kali saya masih merasa "sendiri".Benarkah saya sendirian di dunia ini? Tidak!

Saya punya teman, orang tua, anak, mitra kerja dll. Tetapi saya masih merasa sendiri. Apalagi disaat menghadapi banyak problema yang mau tak mau harus diselesaikan, bahkan terkadang sangat menguras energi baik lahir maupun batin. Mungkin ada di antara Anda yang merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan?

Akhirnya, saya menemukan jawabannya setelah sekian lama mencari jawaban kenapa saya "masih" sering merasa sendiri. Jawabannya adalah karena saya tidak "sepenuhnya" menyerahkan hidup saya pada Tuhan.
Saya masih menempatkan hal lain untuk kepengurusan hidup saya. Padahal, hidup mati dan apa yang saya miliki, bahkan diri saya sendiri adalah hak Tuhan. Milik Tuhan, yang kelak akan diambil kembali. Saya malu padan Mu Tuhan.

Malu pada keegoan diri. Malu pada kesombongan diri. Malu bahwa saya masih menyerahkan kepengurusan hidup dan kehidupan saya diluar diri Mu. Betapa angkuhnya saya. Betapa angkuhnya manusia.



Selasa, 12 Maret 2013

Tuliskan Dan Komunikasikan

Satu bahasan materi yang sangat menarik, ketika saya mengikuti sebuah pertemuan. Menuliskan tujuan bekerja di Hong Kong lalu mengkomunikasikannya kepada orang-orang dekat, seperti orang tua, suami, anak atau saudara. Sayangnya, justru di sinilah letak kendalanya. Siapa yang tidak tahu BMI Hong Kong sih? Setiap Minggunya sibuk dengan segudang aktivitas. Bermacam-macam agenda diikuti sampai kadang untuk makan saja tidak punya waktu.

Acungan jempol buat BMI Hong Kong! Kalau masih ada masyarakat yang berpikir negatif tentang BMI Hong Kong, itu artinya, mereka hanya melihat dari satu sisi saja.
Melakukan berbagai aktivitas memang bukan untuk dilihat orang lain agar terlihat wah, tetapi lebih pada kebutuhan agar diri kita bisa memiliki kualitas yang terus meningkat. Baik dari ilmu pengetahuan, wawasan, pengalaman dan skill. Bisa menjadi bekal ketika pulang ke Tanah Air. Bukan untuk gagahan," Ini lho aku sudah ikut training ini, punya sertifikat ini, berkenalan dengan ini".
Tetapi lebih pada untuk direalisasikan pada kehidupan kita sendiri, keluarga dan masyarakat sekitar.

Sebuah impian yang mulia. Sebuah rencana yang baik. Segampang itukah? Tidak! Ternyata banyak tantangan yang harus dihadapi yang datangnya justru dari orang-orang terdekat kita. Yang terjadi akhirnya sedih dan kecewa bahkan putus asa. Memang tidak mudah menfkomunikasikan impian kepada orang yang cara berpikirnya berbeda dengan kita, namun solusi pasti ada.



Minggu, 27 Januari 2013

Terima Kasih Atas Hidup Ini

            Apapun perolehan yang aku raih, selalu aku syukuri karena aku percaya, bila kita orang yang pandai bersyukur, maka nikmat Allah akan bertambah. Janji Allah adalah benar adanya. Terima kasih untuk segalanya, hanya ini yang terluah dari bibirku disela air mata yang berderai. Begitu banyak hikmah yang aku dapatkan dari ketidaknyamanan-ketidaknyaman selama di perantauan, tak terbilang....
            Perjalanan hidup yang sudah ku tempuh mempertemukan aku dengan banyak hal yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Subhanallah, hanya itu yang terucap dari mulutku. Semakin diri ini merasa kecil dan bukan apa-apa. Semakin menggelora tekad untuk lebih dan lebih belajar. Ketika ku temukan arti hidup di usia yang tidak muda lagi, disitulah  aku berjanji kepada diri sendiri untuk memfaatkan waktu sebaik-baik mungkin. Yah, aku ingin menjadi.....
             Menjadi seperti apa? Menjadi seperti yang dikehendaki Allah. Mudahkah? Tidak! Bila tidak tahu caranya dan menjadi mudah bila tahu caranya. Aku harus belajar dan belajar, melakukan dan melakukan.Rintangan, halangan pasti ada  dan itulah pembelajaran yang sesungguhnya. Menaklukkannya dengan solusi yang terbentang di alam semesta ciptaan Allah.
             Bersyukur terus bergulir dari bibirku dengan pekerjaan yang seringkali jadi cemoohan orang. Kucel, kumel, bodoh, bego, nakal dlsb. Pekerjaan sebagai Buruh Migran yang dicap macam-macam oleh banyak orang karena perbuatan segelintir orang yang tengah terlupa. Yah, terlupa kepada dirinya, penciptaannya, hidupnya. Dari pekerjaan ini, justru ku temukan arti hidup yang sesungguhnya. Ku  temukan kebermaknaan diri yang selalu menguras air mataku. Tuhan, maafkan aku..
              Pekerjaan Buruh ini mengantarkanku untuk bertemu dengan guru-guru kehidupan. Pekerjaan buruh ini mempertemukanku dengan segudang ide yang harus digulirkan, dilaksanakan dengan segala upaya agar terwujud ke permukaan. Pekerjaan buruh ini telah menyeretku jauuuuuh ke masa depan yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya. Relasi, koneksi, peluang dlsb. Terima kasih Tuhan...
              Kini tugas menanti untuk segera ku jamah, di sana di Indonesia sana. Dengan kedua tangan ini, dengan kedua kaki ini, dengan pikiran ini, dengan semangat ini, dengan kepasrahan ini. Kepasrahan hanya kepadaNya, Allah Tuhanku. Terima kasih atas kesempatan hidup ini. Akan ku gunakan sebaik mungkin selama nafas masih bersemanyam didada.  Tidak ada keraguan lagi untuk melangkah. BersamaMu, dengan kehendakMu, dengan ijinMu, semua akan terwujud nyata. [ Zen- Zen : 27 Januari 2013]