Kamis, 03 Maret 2011

PERAN BUKU DALAM MENGUBAH MINDSET


2005 menjadi tonggak awal perubahan saya dalam berpikir, itu semua karena buku.
Sejarah telah mengukir perubahan hidup saya karena buku. Perkenalan dengan benda kecil yang sangat simple bisa dibawa kemana-mana itu tidak akan pernah terlupakan. Memang, sejak masih di bangku SD, saya suka baca buku, bahkan pelajaran PSPB sampai di luar kepala. Kesukaan pada buku berlanjut pada usia SMP, bahkan koranpun saya libas juga.
Usia SMP adalah frase dimana saya mulai tumbuh remaja, saat itulah saya berkenalan dengan novel. Namun sayang, novel yang saya baca novel-novel cengeng dan ternyata itu mempengaruhi cara berpikir saya, terbawa sampai dewasa. Anda bisa bayangkan, selama sekian tahun terbelenggu dengan kecengengan!
Dan semua berbalik 180 derajat di tahun 2005 itupun karena bukku juga. Benda kecil itu mampu mencuci otak saya dari kuman dan virus-virus yang hampir saja membuat saya mati terkapar! Kuman dan virus-virus itu adalah belief-belief ( kepercayaan) yang saya dapatkan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Datang dari orang tua, saudara, teman, lingkungan dll. Belief yang saya yakini itu bisa berupa informasi, perintah ataupun peraturan yang ditangkap oleh panca indera lalu dikirimkan ke otak saya secara berkala dan jadilah patet adanya. Menjadi pedoman hidup!
Tanpa saya sadari, ternyata belief-belief itulah yang mengekang kebebasan saya untuk maju dalam meraih impian. Terlalu banyak aturan yang saya ciptakan sendiri untuk mendokrin diri sendiri. Yach...! Menintimidasi diri sendiri! Ternyata bukan saya saja yang memberlakukan dirinya seperti itu, masih banyak di luaran sana yang berbuat sama. Namun kini semua telah berlalu....
Kehadiran benda kecil yang selalu setia menemani hari-hari saya, membuat hidup lebih berwarna dan bergairah. Menjadi luas wawasan dan ilmu pengetahuan. Siapa sangka, bahkan saya sendiri tak percaya, hanya karena buku, pola hidup saya jadi berubah. Hampir tak percaya!
Saya yang dulunya kuper, minder, pemalu, cengeng, tidak tahu apa-apa dan semacamnya, berubah drastis menjadi sebaliknya.
Buku telah membuat hidup saya syarat makna. Saya semakin paham akan hakikat penciptaan manusia di muka Bumi ini oleh Sang Pencipta. Semakin sadar bahwa dalam hidup ada kehidupan. Bagaimana seharusnya menjalani hidup dan mau diisi apa hidup ini. Berbagai pertanyaan bermunculan; apakah yang sudah saya lakukan? Mau sampai kapan hidup begini? Dan sejuta pertanyaan lainnya yang mampu membuat saya, resah!
Saya yakin, pertanyaan-pertanyaan senada juga meliputi hati kawan-kawan. Namun sayang, banyak yang membiarkan dirinya terbelenggu oleh keadaan. Kenapa? Karena mereka tidak atau belum mau terbuka pada diri sendiri dan orang lain. Mungkin karena malu, tidak tahu atau lebih tepatnya, malas dan sok tahu!
Dulu, sebelum saya terbuka, kesempitan pandangan telah membutakan mata bathin. Terasumsi oleh paradigma sendiri yang belum tentu bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Syukurlah, tidak berlarut-larut dalam kebimbangan, ketakutan, kekhawatiran, kemalasan.
Buku telah mendetox semua racun-racun dalam otak saya secara perlahan tapi pasti. Lahir menjadi manusia baru yang penuh energi.
Saat terhempas masalah, bisa berserah. Saat berlebihan ataupun kekkurangan masih punya empati pada sesama, dan semua itu bisa muncul karena setelah pola pikir yang benar terbentuk.
Terbentuk setelah hidup saya bersentuhan dengan yang namanya buku, tentu saja bukan sembarang buku. Saya lebih hati-hati dalam memilih bacaan buku tapi bukan berarti pillih-pilih. Peran buku ternyata sangat penting untuk mengubah pola pikir/mindset.
Di awal, saya hanya membaca buku pengembangan diri karena saya merasa banyak kekurangan yang ada pada diri.
Seiring berlalunya waktu, jenis buku yang saya baca semakin beraneka ragam terdiri dari berbagai jenis disiplin ilmu. Tidak membatasi diri! Semakin menambah khasanah perbendaharaan, baik dari segi ilmu, pengalaman, wawasan dan bahasa dan kosa kata. Bisa dibedakan dalam masyarakat, bahasanya orang membaca buku dengan tidak membaca buku, sangat berbeda!
*Hong Kong; 4 Maret 2011*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar