Minggu, 01 Mei 2011

RAHASIA RUMAH TANGGA ISLAMI

Allah menciptakan segala yang ada di alam semesta ini berpasang-pasangan. Saling melengkapi,mengisi,bekerjasama,mengimbangi dan mempengaruhi satu sama lainnya serta saling menyempurnakan.
Karena itulah bila salah satu tidak ada,yang lain bakal merasa kehilangan. Timpang..!
Bagai malam dengan siang,hujan dengan panas,kaya dengan miskin demikian pula laki-laki dengan wanita.
Dengan berpasang-pasangan kehidupan di dunia ini jadi seimbang karena keseimbangan itu adalah kunci kebahagiaan. Kita ambil satu contoh laki-laki dan wanita. Dengan adanya keseimbangan dalam hubungan mereka,akan menciptakan mekanisme saling memberi dan menerima. Tidak ada yang ingin menjatuhkan pasangannya dan sebaliknya. Karena menjatuhkan pasangannya sama dengan menjatuhkan diri sendiri. Bila memiliki pasangan jangan berpikir untuk mengekploitasinya. Kita harus menjaga supaya tetap eksis dan bahagia. Kita memberi dulu baru akan mendapatkan…! Memberi adalah kunci kebahagiaan di kemudian hari. Sayangnya banyak dari kita lebih banyak menuntut pada pasangannya, sehingga terjadi masalah saling menuntut dan akhirnya tidak mendapatkan kebahagiaan karena tidak ada yang mau merendahkan ego.
Tidak ada yang gratis di alam semesta ini,semua kesuksesan dan keberhasilan harus didahului oleh usaha. Semakin besar upaya yang kita lakukan,maka semakin besar pula yang bakal di terima. Kenikmatan duniawi,meskipun itu disediakan oleh Allah untuk kebahagiaan kita,sering kali bisa menyebabkan penderitaan. Hanya orang-orang yang bijak saja yang tahu dan bisa mengendalikan diri untuk tidak terjebak pada kehidupan duniawi secara berlebihan. Allah mengingatkan agar kita lebih proposional dalam menyingkapi dunia.
Demikian pula pada orang yang berumah tangga. Kebahagiaan kita semakin besar buka karena menyenangkan diri sendiri melainkan ketika kita melihat orang lain bahagia karena pertolongan kita. Hubungan laki-laki dan wanita biasanya akan diakhiri dengan berumah tangga,sedangkan rumah tangga itu sendiri adalah lembaga di mana keduanya bertemu untuk melakukan aktifitas bersama-sama sebagai perwujudan hak dan kewajiban. Kita berhak berumah tangga karena di sanalah akan mendapatkan kebahagiaan. Dan kewajiban kita untuk berumah tangga. Karena di dalamnya terdapat visi dan misi mulia yang diberikan Allah untuk melestarikan kehidupan manusia di muka bumi. Siapa saja yang bisa menyelami makna berumah tangga dengan pas,mereka bakal menemukan kebahagiaan yang luar biasa. Seperti kata Rosullullah:Baiti jannati-rumahku adalah surgaku.
Kuncinya adalah:pahami fitrah kita,pahami misi rumah tangga dan jalani sesuai petunjuk Allah dan RosulNya. Dan rumah tangga bagaikan sebuah organisasi tempat berkumpulnya lebih dari satu orang untuk beraktifitas bersama. Harus diorganisir agar tidak terjadi tabrakan kepentingan karena pada dasarnya manusia itu berbeda dan memiliki kepentingan yang beda pula. Makanya harus dimanajemeni untuk mencapai tujuan yang sama. Dalam rumah tangga Islam ditekankan kebersamaan antar anggotanya. Hirarki dan kewenangan yang jelas,hak dan kewajiban yang seimbang sesuai dengan norma-norma agama dan kepatutan budaya.
Suami memberikan perlindungan dan mencari nafkah pada keluarga. Memberi jaminan agar rumah tangga bisa berjalan dengan aman,tentram dan sejahtera serta bahagia. Sang istri mengelola rumah tangga,mendidik anak-anak dengan sebaik-baiknya. Bukan berarti tidak boleh berkarya di luar rumah,tetapi harus tetap di dalam koridor manajemen rumah tangga itu sendiri. Berumah tangga adalah kebutuhan setiap manusia yang normal. Butuh partner yang bisa diajak berbagi suka dan duka,butuh menyalurkan fitrah seksual secara sehat dan terhormat serta menciptakan generasi penerus. Rumah tangga merupakan unit terkecil dalam kancah social bermasyarakat. Jangan jadikan rumah tangga hanya sekedar kewajiban karena hal tersebut akan jadi beban hidup saja,kecuali bagi orang-orang yang sudah bisa mengubah sudut pandangnya bahwa yang wajib itu sesungguhnya adalah hak kita yang paling azasi.
Kita akan bahagia melihat orang yang kita cintai bahagia. Kebahagiaan jenis ini levelnya lebih tinggi karena tidak bersifat individual. Boleh jadi sudah masuk kategori kebahagiaan sosial. Tidak gampang memperolehnya,apalagi bagi orang yang bersifat egois. Karena semua kebahagiaan di ukur dari kebahagiaan diri sendiri. Ini adalah tipikal”pemburu kebahagiaan” yang justru tidak akan pernah menemukan kebahagiaan. Berumah tangga dengan berbekal cinta tapi bukan sekedar berburu cinta…! Apa bedanya diantara kedua pernyataan itu?
Berbekal cinta artinya,kita menyintai pasangan kita dan ingin memberi sesuatu kepadanya agar bahagia. Sedang berburu cinta artinya, kita menginginkan untuk dicintai. Menginginkan sesuatu darinya sehingga kita merasa bahagia. Manakah yang baik,mengejar atau memberi cinta? Mengejar atau memberi kebahagiaan? Mengejar atau memberi kepuasaan? Mana yang bakal bahagia?
Mengejar cinta hanya akan mendorong kita untuk berburu sesuatu yang semu belaka,yang tidak pernah teraih karena keinginan adalah sesuatu yang tidak pernah ada habisnya. Kesenagan dan kebahagiaan itu bukan kita peroleh dengan cara mengejarnya melainkan merasakannya. Apa yang sudah dimiliki dan bila kita bisa mensyukuri,maka kebahagiaan itu akan datang dengan sendirinya. Semakin banyak memberi semakin nikmat rasanya. Berumah tangga adalah bentuk beribadah kepada Allah. Orang berumah tangga bukan hanya bersifat lahiriah dan sesaat,serta bertujuan jangka pendek saja melainkan lebih dari itu. Ada 3 hal tujuan orang berumah tangga:
menunjukkan kekuasaan Allah, 2)tercipta ketentraman, 3)membangun kasih sayang.
Ketika rumah tangga tidak dilandasi niat untuk ibadah,biasanya yang muncul adalah keretakan dengan segala permasalahannya. Jika ingin senang secara biologis,maka kita hanya akan memperoleh kesenangan sesaat. Yang namanya kesenangan biologis itu hanya sementara dan dangkal sifatnya. Sangat terkait dengan waktu…! Boleh jadi 1-2 tahun sudah bosan…! Hanya gitu-gitu saja,lalu mulai melirik kanan-kiri mencari variasi dan alternatif. Hal ini terjadi karena kita hanya berorientasi kepada hal-hal yang bersifat fisik saja. Demikianlah penjelasan singkat bagaimana membangun rumah tangga yang sakinah,mawaddah dan warohmah. Bukan hanya sekedar tahu tapi kita benar-benar menghayati dan mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Juga mengajarkan kepada generasi muda tentang arti yang sesungguhnya berumah tangga dalam Islam. Seperti yang di tuturkan oleh Agus Mustofa,seorang penulis buku diskusi tasawuf modern dalam judul “poligami yuk….!”
( Hong Kong;8 juli 2010)

Kamis, 03 Maret 2011

PERJALANAN

KOMENTAR-KOMENTAR PEMBACA BUKU:
  • Setelah membaca buku ini, saya termotivasi untuk lebih maju meningkatkan dan mengembangkan kualitas potensi diri yang selama ini hanya terpendam dalam hati. Buku ini, sangat lluar biasa,banyak inspirasi yang bermanfaat untuk kita petik dan praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Buku ini, membuka hati, jiwa dan mata saya lebar-lebar untuk tidak terpuruk atau diam di tempat, melainkan harus lari mencari ilmu dan menggapai semua impian. Ditunggu karya berikutnya! (arick artita- penari latar)
  • Luar biasa! Setiap bait dari tulisan-tulisan anda, benar-benar bermakna. Tidak berbelit dan mudah dipahami. Harapan saya, anda akan banyak menulis banyak buku lagi, karena kita di sini membutuhkan motivasi dari seorang yang luar biasa seperti anda! Love you all the best to you! (Enna)
  • Ibarat makanan, buku ini rasanya manis, baik untuk bacaan BMI, karena memotivasi mereka untuk belajar mandiri dan displin, itu bagus. Amazing! (Dhio-gitaris)
  • Satu karya anak bangsa yang penuuh inspirasi! Di bab 'Budaya Antre di Hong Kong' , diulas sikap-sikap yanng sebenarnya menjadi modal dasar dalam sebuah pembangunan atau kemajuan disegala bidang, yang selama ini dilupakan banyak orang. Lanjut! (Bustomi-inspirator BMI)
  • Dahsyat! Buku ini telah mewakili suara hati saya yang belum tersampaikan. Lahirnya buku ini merupakan bukti bakat terpendam, yang itu merupakan kekayaan sejati. Ditunggu karya berikutnya! (Titik P)
  • Luar biasa! Penulis mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Diulas dengan bahasa yang unik tanpa menimbullkan kontroversi. Chayao! (Yana)
  • Bagi saya, buku ini merupakan hasil skripsi seorang mahasiswi yang magang di Universitas Kehidupan. Jangan berhenti sampai di sini! (Amani)

PERAN BUKU DALAM MENGUBAH MINDSET


2005 menjadi tonggak awal perubahan saya dalam berpikir, itu semua karena buku.
Sejarah telah mengukir perubahan hidup saya karena buku. Perkenalan dengan benda kecil yang sangat simple bisa dibawa kemana-mana itu tidak akan pernah terlupakan. Memang, sejak masih di bangku SD, saya suka baca buku, bahkan pelajaran PSPB sampai di luar kepala. Kesukaan pada buku berlanjut pada usia SMP, bahkan koranpun saya libas juga.
Usia SMP adalah frase dimana saya mulai tumbuh remaja, saat itulah saya berkenalan dengan novel. Namun sayang, novel yang saya baca novel-novel cengeng dan ternyata itu mempengaruhi cara berpikir saya, terbawa sampai dewasa. Anda bisa bayangkan, selama sekian tahun terbelenggu dengan kecengengan!
Dan semua berbalik 180 derajat di tahun 2005 itupun karena bukku juga. Benda kecil itu mampu mencuci otak saya dari kuman dan virus-virus yang hampir saja membuat saya mati terkapar! Kuman dan virus-virus itu adalah belief-belief ( kepercayaan) yang saya dapatkan baik secara sengaja maupun tidak sengaja. Datang dari orang tua, saudara, teman, lingkungan dll. Belief yang saya yakini itu bisa berupa informasi, perintah ataupun peraturan yang ditangkap oleh panca indera lalu dikirimkan ke otak saya secara berkala dan jadilah patet adanya. Menjadi pedoman hidup!
Tanpa saya sadari, ternyata belief-belief itulah yang mengekang kebebasan saya untuk maju dalam meraih impian. Terlalu banyak aturan yang saya ciptakan sendiri untuk mendokrin diri sendiri. Yach...! Menintimidasi diri sendiri! Ternyata bukan saya saja yang memberlakukan dirinya seperti itu, masih banyak di luaran sana yang berbuat sama. Namun kini semua telah berlalu....
Kehadiran benda kecil yang selalu setia menemani hari-hari saya, membuat hidup lebih berwarna dan bergairah. Menjadi luas wawasan dan ilmu pengetahuan. Siapa sangka, bahkan saya sendiri tak percaya, hanya karena buku, pola hidup saya jadi berubah. Hampir tak percaya!
Saya yang dulunya kuper, minder, pemalu, cengeng, tidak tahu apa-apa dan semacamnya, berubah drastis menjadi sebaliknya.
Buku telah membuat hidup saya syarat makna. Saya semakin paham akan hakikat penciptaan manusia di muka Bumi ini oleh Sang Pencipta. Semakin sadar bahwa dalam hidup ada kehidupan. Bagaimana seharusnya menjalani hidup dan mau diisi apa hidup ini. Berbagai pertanyaan bermunculan; apakah yang sudah saya lakukan? Mau sampai kapan hidup begini? Dan sejuta pertanyaan lainnya yang mampu membuat saya, resah!
Saya yakin, pertanyaan-pertanyaan senada juga meliputi hati kawan-kawan. Namun sayang, banyak yang membiarkan dirinya terbelenggu oleh keadaan. Kenapa? Karena mereka tidak atau belum mau terbuka pada diri sendiri dan orang lain. Mungkin karena malu, tidak tahu atau lebih tepatnya, malas dan sok tahu!
Dulu, sebelum saya terbuka, kesempitan pandangan telah membutakan mata bathin. Terasumsi oleh paradigma sendiri yang belum tentu bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya. Syukurlah, tidak berlarut-larut dalam kebimbangan, ketakutan, kekhawatiran, kemalasan.
Buku telah mendetox semua racun-racun dalam otak saya secara perlahan tapi pasti. Lahir menjadi manusia baru yang penuh energi.
Saat terhempas masalah, bisa berserah. Saat berlebihan ataupun kekkurangan masih punya empati pada sesama, dan semua itu bisa muncul karena setelah pola pikir yang benar terbentuk.
Terbentuk setelah hidup saya bersentuhan dengan yang namanya buku, tentu saja bukan sembarang buku. Saya lebih hati-hati dalam memilih bacaan buku tapi bukan berarti pillih-pilih. Peran buku ternyata sangat penting untuk mengubah pola pikir/mindset.
Di awal, saya hanya membaca buku pengembangan diri karena saya merasa banyak kekurangan yang ada pada diri.
Seiring berlalunya waktu, jenis buku yang saya baca semakin beraneka ragam terdiri dari berbagai jenis disiplin ilmu. Tidak membatasi diri! Semakin menambah khasanah perbendaharaan, baik dari segi ilmu, pengalaman, wawasan dan bahasa dan kosa kata. Bisa dibedakan dalam masyarakat, bahasanya orang membaca buku dengan tidak membaca buku, sangat berbeda!
*Hong Kong; 4 Maret 2011*