Sabtu, 27 Januari 2018

PROFIL PURNA BMI

 Menjadi guru PAUD adalah pilihan Siti Ruliyah, BMI Purna Hong Kong  setelah  ia memutuskan untuk mengakhiri masa kerjanya.  Saat ini Siti Ruliyah tinggal bersama keluarga tercinta  di  Dukuh Sundang Kauman, RT 2/ RW 2, Desa Gelanglor, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Ponorogo- Jawa Timur. Ia sudah menikah dan dikarunia  1 anak laki- laki , Muhammad Faishal Muttaqin  yang saat ini sedang menjalani pendidikannya di Pesantren Al Islam Joresan kelas 2 MTS.

Siti Ruliyah merasa  sedih karena ia tidak bisa memungkiri, selama  4 tahun bekerja di Arab Saudi dan 4 tahun di Hong Kong menjaga anak majikan dan mengajari  mereka belajar, padahal betapa anak- anak Indonesia ( anak BMI) termasuk anaknya sendiri memerlukan figur orang tua sekaligus guru di masa usia golden age ( PAUD) itu.  

Ketika  anak-anak di luar negeri (baca : anak majikan) menjadi pintar karena BMI, sedang anak-anak kita ( anak BMI yang ditinggal bekerja ) tidak ada yang mengajari selain belajar di sekolah. Sehingga ia ingin sekali jika pulang bisa berinteraksi dan mengajari anak- anak,  seperti ia mengajari anak- anak majikan di luar negeri. Inilah yang  menjadi keprihatinannya. Dari keprihatinan ini, timbullah keinginan, tepatnya impian menjadi guru PAUD.

Kenapa Siti  Ruliyah  memutuskan menjadi BMI?  Ia ingin punya rumah sendiri dan punya modal usaha. Kehidupan sebagai BMI dimulai sejak  2005-2009. Negara tujuan pertamanya adalah Arab Saudi. Di negara tersebut aturan untuk pekerjanya sangat ketat. Beruntung ia  mendapat majikan yang baik, hingga ia betah bekerja selama 2 kali kontrak. Selanjutnya  ia beralih ke Hong Kong .

Namun sayang, di akhir 2010  Siti Ruliyah  mengalami permasalahan dengan majikan, karena tidak boleh  menjalankan  salat, digaji under dan disuruh makan yang bagi agamanya  tidak boleh dimakan ( baca : haram), akhirnya  ia hanya bertahan 5 bulan saja lalu pindah ke majikan lain. Di sini ia bekerja hingga 4 tahun lamanya.  Di majikan keduanya ini, ia mendapatkan hak libur dan kesempatan ini digunakannya untuk ikut berorganisasi. Ia memilih organisasi yang sifatnya sosial dan religi. Di organisasi inilah, ia mendapatkan banyak pengalaman yang ia gunakan sebagai salah satu bekal untuk  pulang ke Tanah Air.

Siti Ruliyah tertarik  dengan sebuah lembaga nirlaba yang ada di Hong Kong, yaitu Dompet Dhuafa (DD). Ketertarikan itu bermula ketika  DD mengadakan pelatihan relawan siaga bencana ( Disaster Managemen Center). Di situ ia  mendapatkan pengalaman bagaimana membantu orang saat terjadi bencana. Kemudian  ia mengikuti pelatihan wirausaha yang diadakan lembaga itu juga, dengan Bob Sadino sebagai nara sumber, dan ia yang  ditunjuk menjadi ketua panitianya.

Sejak itu, Siti Ruliyah aktif menangani salah satu divisi yang ada di DD, yaitu Ulil Albab. Mempelajari hal-hal keagamaan  bersama ustaz/ustazah. Selanjutnya beralih menangani DD Travel yang memberangkat jamaah umroh selama 2 periode. Selain umroh, ia juga menangani kegiatan wisata ke China. Tak cukup puas, ia pun pindah ke Divisi Volunteer, karena ia ingin menambah ilmu, pengalaman dan memperluas wawasan.

Di Divisi Volunteer inilah pernah  diadakan pelatihan pendidikan anak usia dini, managemen  PAUD dan TPQ. Di sini hatinya klik. Ingin mewujudkan  dan sesampainya di Indonesia,  ada peluang mengelola  anak-anak untuk persiapan Sekolah Dasar. Akhirnya ia mengajukan ijin operasional ke Dinas Pendidikan. Karena tanah yang ada di tempat itu milik desa, maka nama tempat pendidikan  itu dinamakan TK PKK yang pengelolaannya diamanahkan kepadanya.

Selain itu Siti Ruliyah didaulat  menjadi kader PKK dan kader posyandu  serta menjadi pengelola Mandrasah Diniyah di desanya. Dari sini ia mendapat kepercayaan menjadi wakil perempuan di BPD Gelangsor.

Alasan Ruli pulang ke Tanah Air  karena ia ingin berkarya di negeri sendiri dan dekat dengan keluarga terwujud sudah. Sebelum pulang, ia benar-benar mempersiapkan diri dengan mengikuti beberapa pelatihan, di antaranya  pelatihan wirausaha, pelatihan managemen pendidikan anak usia dini  ( PAUD) dan TPA, pelatihan managemen berorganisasi,  pelatihan relawan dan pendidikan keagamaan seperti tersebut di atas.
Kembali ke Tanah Air dan meninggalkan kemegahan kota metropolitan seperti Hong Kong, akan membuat seorang BMI stres,  meskipun ia kembali ke kampung halamannya sendiri. Frase ini akan dialami oleh semua BMI. Ada yang berhasil melaluinya tapi ada juga yang gagal. BMI harus  benar-benar mau beradaptasi dari nol. Tak jarang BMI mengalami kebingungan di masa ini.

Lalu apa yang dilakukan Siti Ruliyah di awal menjalani kehidupan di kampungnya?  Ia  melibatkan diri dalam kegiatan kemasyarakatan  sesuai dengan  ilmu yang didapat dari  Hongkong. Baginya, ini merupakan bentuk sebuah usaha yang harus dijalani dengan penuh semangat dan telaten.  Yang disebut membangun usaha, bukan saja sesuatu tindakan yang menghasilkan barang, tetapi melakukan sesuatu untuk pemberdayaan  merupakan usaha juga. Siti Ruliyah beradaptasi dengan aktif di kegiatan kemasyarakatan, sehingga serasa di luar negeri karena bisa berbagi pengalaman

Kedisiplinan dan kebersihan tetap ia terapkan, sehingga disitulah orang- orang sekitar  menganggapnya mempunyai nilai lebih, dan akhirnya mempercayakan kepadanya  untuk memegang peranan penting di masyarakat, misalnya sebagai kader posyandu, BPD (Badan Permusyawarahan Desa), Fatayat dan lainnya.
Pengalaman telah melalui serangkaian tahapan/proses  di Tanah Air, baik yang menyenangkan maupun yang menyedihkan, dari Siti Ruliyah  cukup menarik untuk  kita simak bukan? Baik bagi BMI yang masih bekerja di luar negeri maupun yang sudah pulang ke Tanah Air tapi masih bingung/belum menemukan sesuatu yang sreg untuk dilakukan. Meskipun ketika di Hong Kong sudah mempelajari banyak hal, mengikuti banyak kegiatan, belum tentu sekembalinya ke Tanah Air  BMI tersebut  bisa langsung action.

Oleh sebab itu, Siti Ruliyah  berpesan, terutama kepada teman-teman sesama BMI yang masih di luar negeri,  selagi ada kesempatan belajar , belajarlah  sebagai bekal pulang, selain keuangan. Baginya, bekerja di luar negeri  sebagai BMI adalah pengalaman yang luar biasa.  Bukan sesuatu yang menghinakan seperti anggapan banyak orang.

Siti  Ruliyah yang lahir di Jambi, 5 Oktober 1984 ini,  berangkat  ke Hong Kong akhir 2010  dan pulang akhir 2013. Ia memilih bekerja ke Hong Kong karena negara  ini bebas, sehingga ia bisa bebas  berekpresi dan belajar banyak dari masyarakat Hong Kong  serta WNI yang tinggal di sana. Sedangkan di Arab Saudi, ia hanya bisa belajar tentang kedisplinan dari majikan saja, karena di negara itu sangat tertutup. Ia bukan mencari tempat kerja yang  bisa  membuatnya  bebas berbuat sesuka hati sampai keblinger, tetapi yang dicarinya adalah kebebasan untuk belajar sesuatu yang belum ia ketahui. 


Sikap Siti Ruliyah inilah yang membawanya bisa mewujudkan apa yang diinginkannya selepas menjadi BMI. Sama seperti ketika di majikan pertama, dimana ia mendapat perlakuan tidak adil, tepatnya dipaksa mengikuti aturan majikan.  Ia pun menyingkapinya dengan tegas, yaitu memilih pindah. Biarpun ia harus membeli sendiri  makanan dari sisa potongan gaji yang ada, hal  itu ditempuhnya sebagai konsekuensi dari sebuah keputusan. * Dimuat koran Berita Indonesia *