Senin, 16 November 2015

Menangkal Kecanggihan Penipu

“ Dinamika ini terlalu riweh, saya sudah diskusi panjang lebar. Mereka merasa  menjadi korban hal yang sama. Dan kedekatan emosional pekerja migrant menjadi penyebab tidak adanya tawar-menawar yang baik. Apalagi pihak yang telah merugikan tidak mau melakukan klarifikasi. Lengakplah sudah…”


Penggalan diskusi saya dengan seorang mitra di  Hong Kong. Kami sedang membahas masalah penipuan  di kalangan BMI. Kasus penipuan semakin merajalela meski sudah seringkali dibahas di sosmed.  Namun  faktanya, korban terus berjatuhan dengan bermacam modus.

Ada yang menggunakan  cara berbisnis dengan berbagai nama,  investasi, kursus, sedekah, akad jual beli, dll.  Pelakunya pun  juga beragam, dari sesama BMI, yayasan, organisasi, motivator, artis, ustad  dan masih banyak lagi.

Anehnya, masih banyak BMI tidak jera.  Kenapa? Apakah karena mencari uang disana lebih mudah ?  Atau karena berlebihan uang, hingga bermurah hati menyerahkan uangnya kepada orang lain? Atau mungkin, tidak  puny a perencanaan keuangan?  Atau karena sungkan menolak dengan alasan teman dekat?  Atau  lagi terpana asmara, hingga logika tak berjalan?

Setiap kejadian di dunia ini, ada sebab dan akibat. Inilah hukum  alam yang tidak bisa dihindari, dan sayangnya, tidak semua orang memahaminya. Ketika kesandung masalah, saling menyalahkan  yang lebih sering dilakukan.  Siapa pun akan marah, kecewa, jengkel, bila ditipu  oleh orang lain, apalagi orang itu sangat kita percayai dan hormati. Tapi, penipuan itu tidak akan terjadi bila kita tidak mengijinkan diri sendiri untuk menyerahkan uang ke orang  tersebut bukan?

Setiap individu harus paham akan dirinya sendiri.  Kalau tidak paham, maka selama itu pula, dirinya akan selalu ikut arus karena tidak punya pendirian tetap. Agar tidak jadi sasaran empuk orang-orang yang tidak bertanggungjawab, kita harus paham terhadap diri sendiri.

 Ketika uang kita berada ditangan orang lain, maka uang tersebut tidak sepenuhnya menjadi milik kita. Tidak percaya? Mari kita bahas, ketika kita menyerahkan uang ke tangan orang lain, apakah  kita  yakin bahwa uang itu akan kembali utuh seperti semula? Ada beberapa  kemungkinan, uang kembali ketika kita bertemu dengan orang yang baik. Yang kedua, uang  raib tanpa bekas, dan ketiga, uang kembali dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan sampai kita merasa capek sendiri, dan akhirnya kita enggan menanyakan keberadaan  uang tersebut. Benarkan?

Percaya kepada orang lain, boleh-boleh saja, namun haruskah kepercayaan itu disertai  dengan urusan serah terima uang? Kalau pun harus serah terima uang, cobalah untuk benar-benar  waspada. Kumpulkan bukti-bukti atau informasi perihal serah terima uang tadi. Miliki alasan yang kuat dan bijak sebelum mengeluarkan uang kepada orang lain.

Dengan banyaknya kasus tipu menipu saat ini, seharusnya kita semakin selektif dalam bergaul dan bertindak. Jangan mudah terpesona dengan perkataan, penampilan, janji-janji muluk, tawaran yang menggiurkan.  Tetaplah berpikir rasional. Untuk belajar, tidak harus menunggu mengalami sendiri dulu bukan? Pengalaman orang lain, sudah cukup untuk kita ambil pelajarannya.

Kepandaian dalam   urusan tipu -  menipu, semakin bertambah canggih. Ada yang menggunakan kedekatan emosional, ada yang menggunakan pangkat dan jabatan, ada yang menggunakan keelokan paras wajah, dan tidak sedikit yang menggunakan kaum miskin papa untuk menggugah rasa iba yang melihatnya. Ketika rasa iba sudah muncul, apapun bisa diserahkan, apalagi kalau sudah dibumbui perkara agama. Pada berlomba-lomba ingin jadi yang terbaik dengan alasan beramal. Padahal beramal tidak selalu dengan uang.

Apakah beramal itu tidak baik? Tentu saja baik, karena dengan beramal kita menjadi pribadi yang ber-empati terhadap sesama. Kita berbagi rezeki dan kebahagiaan. Namun permasalahan kini, perlukan kita beramal kalau sesudahnya kita menggugat karena merasa dibohongi? Biarlah itu menjadi tanggungjawab  yang telah menyalahgunakan kepercayaan kita kepada Sang Khalik. Tugas kita  adalah, mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, mengambil hikmah dan pelajaran, ke depannya tidak terulang lagi.

Bijaklah  dalam setiap  tindakan kawan! Ingatlah,  baik buruknya nasib kita di rantau, ada ditangan kita sendiri.  Bolehlah  kita berpikir mumpung di Hong Kong, cari uang mudah, ingin beramal sebanyak-banyaknya. Namun, jangan lupa, untuk beramal tidak harus ketika ada di Hong Kong, saat kembali ke Indonesia pun masih bisa diteruskan dan justru  inilah yang harus dipikirkan dari sekarang, bagaimana tetap bisa beramal dimanapun berada.

Sudah  saatnya kita smart agar tidak jadi  bulan-bulanan pihak-pihak yang memang sengaja ingin mengeruk keuntungan   dari kita. Bagi mereka, Hong Kong adalah lahan empuk mengeruk keuntungan pribadi, dimana mayoritas  yang bekerja adalah wanita. Wanita yang dikenal lemah.  Lemah dengan rayuan, pujian, sanjungan, janji dan pemberian  hadiah/ modal usaha. 

*Di muat koran Berita Indonesia, edisi November 2015 *