“Menemani sidang temen di pengadilan Kwung
Tong. Karena sering dimarahi dan dipukul
Sebuah status yang saya baca di fesbuk,
sangat menggelitik hati sekaligus juga prihatin. Dijaman canggih dan hidup dalam
kota metropiltan seperti Hong Kong masih saja mempercayai hal-hal seperti itu. Bagaimana mereka bisa melakukan tindakan yang
justru mencemarkan citra diri ?
Hidup di Negara bebas seperti Hong Kong memang
rentan dengan pengaruh luar yang kuat. Bila kita tidak bisa menyaring segala
informasi yang datang dari sekitar kita, maka tidak menutup kemungkinan akan
mudah terpengaruh. Sangat penting memilih teman dan memasuki komunitas yang
benar. Bila kita asal-asalan bergaul, lambat laun kita akan terseret pola
pergaulan asal-asalan pula. Kita tidak punya filter untuk menyaring
mana yang baik dan buruk, mana yang salah dan benar, apalagi ketika jiwa dan
pikiran kita masih labil.
Teman dan lingkungan (baca: komunitas) di Hong
Kong menjadi tempat kedua setelah rumah majikan buat kita membangun habit karena
apapun yang sering kita dengar dan lihat akan tertanam dalam pikiran kita dan
bisa menjadi sebuah program. Bukankah sebelum kita melakukan sebuah tindakan
kita pasti memikirkannya dulu? Tindakan tidak datang serta merta selalu didahului dengan memikirkannya.
Kawan, mengakhiri catatan kecil ini, saya ingin
menyampaikan bahwa semua masalah yang kita hadapi dalam hidup ada jalan
keluarnya. Masalah itu adalah sarana pendewasaan diri dalam memahami arti hidup
dalam kehidupan. Tanpa masalah, kita tidak akan tahu apa-apa. Bila kita dapat
masalah, yang harus selalu kita ingat adalah bagaimana kita bisa mengelola
emosi yang menyertainya.
Dimuat Koran Berita Indonesia Edisi September 2013