Rabu, 17 Juli 2013

Hutang Oh Hutang

“ Selama 18 tahun bekerja di Hong Kong, baru kali ini saya ditipu orang dan jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Saya tidak menyangka, orang yang saya percaya dan sudah saya anggap seperti saudara sendiri tega menipu saya……”
Inilah diskusi saya dengan salah seorang kawan BMI yang baru saja tertimpa musibah.  Walau sering dimuat dalam media tentang hutang piutang, ternyata korban masih berjatuhan juga.
Adakah di antara anda yang bekerja tetapi menerima gaji hanya selintas saja? Harus memendam segala keinginan karena tidak ada uang yang tersisa? Stres karena merasa berdosa tidak bisa kirim uang pada keluarga? Kemana larinya uang itu? Bayar hutang! Ya tidak apa-apa dong, karena hutang harus dibayar.
Kalau kita berhutang untuk kebutuhan sendiri, mungkin ini suatu hal yang” lumrah”. Bila kita merasa tak nyaman dengan hutang, tinggal mengubah pola pikir dan pola hidup. Tetapi bagaimana kalau kita harus membayar hutang orang lain yang tidak ada sangkut paut keluarga dengan kita hanya karena kita merasa “senasib sepenanggungan” di rantau?
Nah! Kawan, seringkali kita mendengar permasalahan hutang piutang yang berakibatnya putusnya sebuah pertemanan/hubungan karena salah satu pihak tidak bertanggungjawab. Seharusnya ini bisa menjadikan kita lebih bijaksana terhadap diri sendiri dalam memaknai sebuah persahabatan.  Kebanyakan dari kita terjebak rasa “ pekewuh” terhadap teman sehingga kita mau saja melakukan apa saja yang diminta. Kita takut dikatakan pelit, tidak sehati, tidak welas asih, tidak setia kawan dan sejenisnya.
Hati-hatilah! Ingat selalu dengan tujuan kita ke rantau ini untuk memperbaiki kehidupan. Baik dari segi finansial, ilmu pengetahuan, pengalaman dan keahlian. Buat diri sendiri dan keluarga.  Bijaklah dalam menyingkapi setiap pergaulan. Pandailah memilih dan memilah karena kita tidak tahu isi hati manusia. 
Bagaimana caranya? Tingkatkan pengetahuan diri, bisa dengan membaca buku positif, ikut pertemuan dll.  Semua dapat kita peroleh dengan mudah di rantau ini. Tinggal kita mau apa tidak melakukan upaya untuk meningkatkan pengetahuan diri. Hidup adalah pilihan!
Lalu buat pembukuan keuangan ( keluar masuknya) uang setiap bulannya dan buat planning ke depan dengan keuangan kita. Dengan perencanaan yang sangat ketat dan kedisiplinan diri, kita bisa mengatur keuangan   kita. Pandai-pandailah dalam memilih teman dan memasuki lingkungan karena teman dan lingkungan mampu mempengaruhi kita. Apalagi kalau pada dasarnya kita belum punya pengalaman sama sekali dengan segala hal yang ada di rantau, akan menjadi sasaran empuk orang-orang  yang memiliki niat buruk.
Uang memang  bukan segala-galanya dalam hidup tetapi segala-galanya butuh uang bukan?  Mau beli makanan, beli baju, pergi liburan, datang ke pertemuan, biaya sekolah anak, ada yang sakit, menelepon dan masih banyak lagi, semua butuh uang. Semua pakai uang. Kitalah yang berkewajiban dengan masuk keluarnya uang kita.

Urusan pinjam meminjam memang tidak bisa dihindari dalam sebuah persahabatan karena kita adalah makhluk sosial yang akan senantiasa berhubungan dengan yang lain. Tugas kita adalah bijak dalam segala urusan apalagi uang. Karena uang yang sudah ada di tangan orang lain, sepenuhnya bukan menjadi milik kita lagi. Masih untung kalau kembali. Lalu, bagaimana kalau tidak kembali? 


* Dimuat Koran Berita Indonesia Hong Kong*

Senin, 01 Juli 2013

Terjebak Persepsi Diri

Ketika kita menginginkan sesuatu kadang kita lupa mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan yang terjadi. Kita begitu semangat untuk meraihnya walau kita tidak tahu itu apa dan siapa. Kita hanya tahu bahwa kita ingin mendapatkannya. Itu saja!

Manusia identik dengan keinginan bahkan bermacam-macam. Baik itu negatif atau positif. Merugikan atau menguntungkan. Lebur dalam gelombang keinginan. Tugas kita untuk memilahnya agar kita dapat memilih mana yang terbaik buat kita.

Keinginan akan membuat kita memiliki semangat dalam hidup. Keinginan mampu menjadi mesin penggerak kita bertindak. Dan untuk meraihnya, kita perlu mempersiapkan diri menghadapi segala sesuatunya. Karena kita tidak tahu di depan ada apa. Bukan berarti kita harus melakukan sesuatu menunggu semuanya sempurna tetapi setidaknya punya persiapan.

Keinginan kita dengan segala kriteria yang ada bukanlah sebuah keputusan mutlak. Kriteria dibuat agar kita bisa lebih memfokuskan pikiran dengan keinginan. Agar kita tidak ceroboh dalam bertindak karena setiap tindakan mengandung resiko yang mau tidak mau ,terpaksa atau rela, suka atau benci, tahu atau tidak tahu  ada pertanggungjawaban.

Oleh sebab itu kita harus bijak menyingkapi diri sendiri, tepatnya menyingkapi keinginan diri. Jangan karena keinginan tadi kita terjebak dengan persepsi diri yang sempit yang membuat kita menderita. Persepsi diri yang sempit sangat merugikan  kemajuan hidup bahkan menjauhkan kita dari sebuah pencapaian. Yang harus kita lakukan agar tidak terjebak persepsi diri yang sempit adalah memperluas persepsi kita. Persepsi terhadap diri sendiri, persepsi terhadap orang lain, persepsi terhadap situasi dan kondisi.

Hidup Penuh Dengan Kejutan

Dalam minggu-minggu ini banyak kejutan yang tak terduga. Kejutan yang membuat hati sedih, merasa kehilangan, keharuan dan sekaligus sebuah peringatan juga pembelajaran bagiku sebagai manusia yang diciptakan Tuhan dengan tujuan. Berpulangnya seorang sahabat, teman dan saudara seiman.
Ada duka yang begitu dalam aku rasakan dan ternyata rasa ini juga dirasakan orang lain. Kenapa?
Bertemupun tidak? Bicarapun seperlunya saja. Setelah aku merenung, ku temukan jawaban : akhlak.

Akhlak yang mampu mempererat hubungan silaturohmi di antara kami. Akhlak yang mengingatkan hati kami dengan sendirinya. Akhlak yang menumbuhkan cinta kasih begitu deras bak air terjun yang akan mengalir airnya terus menerus. Akhlak yang menguatkan ikatan batin yang mampu menguras airmata.

Kejutan berikutnya membuatku geleng kepala tak habis pikir. Ini nyata atau mimpi? Tak pernah menyadari hadirnya sesuatu yang ada di sekeliling dan ketika itu diutarakan, membuatku bengong. Ini nyata atau mimpi?
Ya, begitulah manusia, banyak yang tidak peka terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, meski itu terjadi padanya.

Kejadian-kejadian dalam minggu ini menyadarkannku bahwa hidup ini penuh dengan kejutan. Siapkah kita?