Minggu, 27 Januari 2013

Terima Kasih Atas Hidup Ini

            Apapun perolehan yang aku raih, selalu aku syukuri karena aku percaya, bila kita orang yang pandai bersyukur, maka nikmat Allah akan bertambah. Janji Allah adalah benar adanya. Terima kasih untuk segalanya, hanya ini yang terluah dari bibirku disela air mata yang berderai. Begitu banyak hikmah yang aku dapatkan dari ketidaknyamanan-ketidaknyaman selama di perantauan, tak terbilang....
            Perjalanan hidup yang sudah ku tempuh mempertemukan aku dengan banyak hal yang sebelumnya tak pernah terpikirkan. Subhanallah, hanya itu yang terucap dari mulutku. Semakin diri ini merasa kecil dan bukan apa-apa. Semakin menggelora tekad untuk lebih dan lebih belajar. Ketika ku temukan arti hidup di usia yang tidak muda lagi, disitulah  aku berjanji kepada diri sendiri untuk memfaatkan waktu sebaik-baik mungkin. Yah, aku ingin menjadi.....
             Menjadi seperti apa? Menjadi seperti yang dikehendaki Allah. Mudahkah? Tidak! Bila tidak tahu caranya dan menjadi mudah bila tahu caranya. Aku harus belajar dan belajar, melakukan dan melakukan.Rintangan, halangan pasti ada  dan itulah pembelajaran yang sesungguhnya. Menaklukkannya dengan solusi yang terbentang di alam semesta ciptaan Allah.
             Bersyukur terus bergulir dari bibirku dengan pekerjaan yang seringkali jadi cemoohan orang. Kucel, kumel, bodoh, bego, nakal dlsb. Pekerjaan sebagai Buruh Migran yang dicap macam-macam oleh banyak orang karena perbuatan segelintir orang yang tengah terlupa. Yah, terlupa kepada dirinya, penciptaannya, hidupnya. Dari pekerjaan ini, justru ku temukan arti hidup yang sesungguhnya. Ku  temukan kebermaknaan diri yang selalu menguras air mataku. Tuhan, maafkan aku..
              Pekerjaan Buruh ini mengantarkanku untuk bertemu dengan guru-guru kehidupan. Pekerjaan buruh ini mempertemukanku dengan segudang ide yang harus digulirkan, dilaksanakan dengan segala upaya agar terwujud ke permukaan. Pekerjaan buruh ini telah menyeretku jauuuuuh ke masa depan yang tak pernah ku pikirkan sebelumnya. Relasi, koneksi, peluang dlsb. Terima kasih Tuhan...
              Kini tugas menanti untuk segera ku jamah, di sana di Indonesia sana. Dengan kedua tangan ini, dengan kedua kaki ini, dengan pikiran ini, dengan semangat ini, dengan kepasrahan ini. Kepasrahan hanya kepadaNya, Allah Tuhanku. Terima kasih atas kesempatan hidup ini. Akan ku gunakan sebaik mungkin selama nafas masih bersemanyam didada.  Tidak ada keraguan lagi untuk melangkah. BersamaMu, dengan kehendakMu, dengan ijinMu, semua akan terwujud nyata. [ Zen- Zen : 27 Januari 2013]