Jumat, 16 November 2012

BMI HARUS SUKSES BERWIRAUSAHA

Virus entrepreneur menyebar di kalangan BMI Hong Kong. Ini buah akibat dari training atau workshop berbasis kewirausahaan yang mereka ikuti saat libur. Apapun bentuk dan tema yang disuguhkan kepada peserta di sebuah even, pasti membuahkan perubahan. Perubahan pola pikir, perubahan sikap dan tindakan, ketiga hal ini saling berkaitan satu sama lain, tidak bisa dipisahkan.


Perubahan-perubahan ini akan berimbas pada kehidupan seseorang, sebagai upaya meraih peningkatan yang lebih tinggi di segala aspek kehidupan. Hidup identik dengan gerak, berani hidup berani bergerak. Dari sekian training atau workshop yang banyak di gelar sudah mampu menggelitik hati dan pikiran BMI untuk memiliki kesadaran diri, bahwa keberadaan mereka di Hong Kong bukan hanya sebatas bekerja tetapi bisa melakukan banyak hal yang produktif.

Finansial, wawasan, ilmu dan pengalaman bertambah. Untuk itu, harus ada sesuatu yang dikerjakan di luar jam utama bekerja di majikan. Agar dapat mewujudkannya, dibutuhkan banyak elemen-elemen tertentu. Karena banyak BMI yang terpaksa “gulung koming” dan “gulung tikar” lalu kembali bekerja ke Hong Kong karena mengalami kegagalan saat menjalankan roda uasahanya. Dengan membawa “trauma” yang akut sehingga takut mencoba lagi. Mencukupkan diri dengan menerima gaji.

Fenomena ini sebagai bukti akurat, bahwa dalam dunia kewirausahaan tidak cukup dengan modal uang dan tekad, tetapi dibutuhkan banyak hal, di antaranya : analisa produk, survei pasar, biaya produksi, penjualan dll. Hal ini yang luput dari perhitungan BMI ketika menjalankan usaha. Mereka masih anut grubyuk dalam melakukan sesuatu tanpa perhitungan matang, sehingga terkesan musiman.

Dalam dunia usaha, persaingan semakin bertambah ketat. Para pelakunya harus terus mengikuti perkembangan informasi kalau tidak mau tenggelam. Memiliki visi dan misi yang tepat, sehingga biduk usaha yang dijalankan berjalan sampai di tujuan. Untung rugi dalam dunia usaha adalah hal biasa, yang luar biasa ketika seorang pelaku usaha gagal terus dalam uasahanya. Pasti ada yang salah. Untuk meminimilir kegagalan secara berulang, pelaku usaha harus segera mencari tahu letak masalahnya dengan belajar. Mengumpulkan infomasi sebanyak mungkin yang menunjang kelancaran usahanya.

Bagi BMI itu sendiri, rasanya sudah sangat memadai pengetahuan mereka dalam dunia usaha. Apapun jenis training atau workshop berbasis kewirausahaan selalu diminati. Namun pada kenyataannya, mereka masih terbelenggu dengan permasalahan yang hampir sama, yaitu : takut memulai. Solusi untuk menghindari hal ini adalah bimbingan kerja di lapangan, ketika BMI tersebut pulang ke kampung asal dan membuka usaha, atau bimbingan usaha kepada para keluarga BMI yang ada di Indonesia. Bila hal ini bisa diwujudkan, BMI yang akan, sedang membukan sebuah usaha tidak takut lagi. Setidaknya kegagalan bisa di toleransi sejak dini.

Ilmu pengetahuan, wawasan dan pengalaman yang dilengkapi bimbingan kerja di lapangan, sangatlah penting. Untuk mewujudkan dan menciptakan entrepreneur-entrepreneur sejati di kalangan BMI, bukan entrepreneur musiman, maka, sejumlah “aktivis BMI” akan menggelar training berbasis kewirausahaan pada tanggal 13 Januari 2013. Bertempat di Y-Studio Lt 2. Youth Square, 238 Chaiwan Road keluar exit A. Yang akan menghadirkan Tatiek Kancaniati, seorang Social Entrepreneur, Owner dari dari Kampoeng Wisata (sebuah desa yang didalamnya terdapat 23 hingga 25 jenis usaha), penulis dan konsultan bisnis di sebuah majalah yang terbit di Hong Kong. Info lengkap bisa menghubungi Anna 96034056, Martin 67053890.


* DIMUAT KORAN BERITA INDONESIA edisi Noov 2012*




Citra Diri

“Cece, tolong jaga rumah saya. Jangan masukkan orang ke dalam rumah saya,


selama saya bepergian ya…..”

Demikianlah percakapan antara seorang BMI dengan majikannya. Seandainya itu terjadi pada rekan-rekan, apakah yang dirasakan? Apakah yang dipikirkan? Ada dua kemungkinan, marah/tersinggung atau tertunduk malu. Perkataan majikan itu, sepintas lalu terkesan menyudutkan kita sebagai BMI, apalagi selama ini, kita bekerja dengan baik. Tidak pernah neko-neko, manut, serta disiplin. Mendengar majikan berkata begitu, ada yang mengganjal di hati kita pastinya : dongkol!. Timbul rasa marah, kecewa dan tersinggung, lalu kita teringat riwayat kerja sekian tahun bersamanya.

“Ada sebab pasti ada akibat, tidak ada yang muncul tiba-tiba di dunia ini”. Sebuah pepatah, yang perlu kita renungkan dan membuat kita tersadar karenanya. Marah, kecewa dan sedih yang sempat bercokol dalam hati dan pikiran kita berangsur menurun. Kemungkinan majikan dengar dari kawan-kawannya tentang seorang BMI yang telah memasukan orang lain ke dalam rumahnya. Atau, bisa jadi majikan kita terlalu tegang untuk bepergian dalam kurun waktu yang cukup lama, meninggalkan pembantunya sendirian di rumah. Hal ini bisa terpacu dari pola hidup atau kultur budaya.

Penduduk Hong Kong mempunyai kebiasaan suka tegang dan kehati-hatian yang berlebihan yang berakhir curiga. Entah karena kesibukan kerja yang sangat tinggi atau karena sifat individu orangnya. Sangat penting kita menyadari hal itu, sehingga mampu meredam rasa yang mengganjal di hati. Seandainya kita yang menjadi majikan, lalu orang yang kita percaya menyalahgunakan kepercayaan tersebut, pasti kita sedih, kecewa dan marah juga.

Dengan memahami jalan pikiran majikan, rasanya, kita tidak perlu berlama-lama dalam kekecewaan. Justru hal ini bisa kita jadikan motivasi diri untuk bekerja lebih baik lagi. Menunjukkan bahwa kita bukanlah seperti apa yang majikan pikirkan atau curigakan. Bukan hal yang sulit bagi kita untuk melakukan hal-hal negatif di rumah majikan ketika mereka tidak di rumah atau ketika kita sedang libur, benarkan?

“ Hai cece, saya melihat ada BMI yang pergaulannya luar biasa sekali sama orang asing. Kamu jangan sampai kayak gitu ya?! Ternyata orang Indonesia itu kayak gitu ya..”

Satu percakapan antara majikan dan seorang BMI di sebuah kendaraan. Hanya beberapa orang yang berbuat, semua kena sasaran getahnya. Kalau di pikir, ini adalah hak pribadi! Tidak ada hak orang lain untuk ikut campur urusan kita, mau majikan, saudara, teman atau siapapun. Ini hidup kita! Suka-suka kita! Yah, betul! Tidak ada hak orang lain ikut campur urusan kita.

Namun, ada satu hal yang belum kita sadari atau mungkin terlupakan. Ternyata, kehadiran kita di Hong Kong ini bukan hanya membawa nama diri sendiri, tetapi juga membawa nama keluarga dan Bangsa Indonesia. Seringkali, orang Hong Kong mengkait-kaitkan diri kita dengan negara asal kita. Padahal keberadaan kita hanya ingin bekerja agar memiliki penghidupan yang lebih baik dari sekarang. Suka duka, hanya kita yang tahu, seringkali, Bangsa kita tidak peduli. Apakah kita mendapatkan perlakuan yang baik dari majikan? Apakah kita mendapatkan hak-hak kita dari majikan? Apakah keluarga kita aman-aman saja setelah kita tinggalkan? Kitalah yang merasakan. Kecuali kalau, salah satu dari kita mengalami peristiwa besar di perantauan (meninggal, pelecehan, kekerasan, sakit), barulah Bangsa Indonesia turun tangan.

Anehnya, setiap perbuatan yang kita lakukan baik positif ataupun negatif, pasti disangkut pautkan dengan negara kita, Indonesia. Kenapa ya? Apakah ini yang dinamakan ikatan batin antara warga/rakyat dengan bangsanya? Terlepas, apakah bangsa tersebut peduli dengan rakyatnya atau tidak. Ikatan inilah yang ternyata dilihat oleh orang Hong Kong. Secara tidak sadar, keberadaan kita bukan hanya sebagai BMI saja yang niatnya hanya bekerja mencari uang tetapi lebih dari itu, ternyata kita juga dilihat sebagai duta bangsa.

Duta bangsa/perwakilan negara yang tinggal di setiap flat-flat yang penghuninya(majikan) mengambil kita untuk membantunya menyelesaikan tugas-tugas yang ia tidak mampu kerjakan karena kesibukan kerja. Ada majikan yang memberikan kepercayaan penuh pada kita, ada yang separuh saja kepercayaannya dan ada yang selalu curiga. Apapun itu, sudah resiko dalam bekerja. Semua kembali pada kita bagaimana menyingkapinya. Setiap orang tidak sama cara berpikir dan tindakannya.

Ketika kita tahu, bahwa keberadaan kita di Hong Kong bukan hanya sebagai BMI, apakah yang akan kita lakukan? Ternyata, citra bangsa ada di pundak setiap warganya tak peduli apapun statusnya termasuk BMI. Sekarang, semua kembali kepada pribadi masing-masing. Mau diisi dengan apa hidupnya, kembali pada yang pelakunya. Yang pasti, apapun perbuatan kita, selalu akan dapat sorotan baik secara langsung atau tidak langsung. Menjadi penilaian banyak orang, di Hong Kong ataupun di Indonesia. Tanpa membaca sumpah kerja, tanpa mendapatkan pelayanan yang memuaskan, tanpa mendapat perlindungan yang optimal, kita tetap punya tanggung jawab menjaga citra bangsa.

Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, sukarela atau terpaksa. Setiap jengkal langkah kaki ini ada citra bangsa. Wajahnya tercermin pada wajah kita. Keramahan, kejujuran, kebaikan, kesabaran dan ketelatenan serta kekreativan, tercermin pada segala tindak tanduk kita. Apakah kita sudah siap menjadi duta bangsa?



* dimuat koran BERITA INDONESIA edisi November 2012*