“Aku ingin berubah. Sudah 12 tahun kerja
di Hong Kong,aku nggak punya apa-apa.
Aku mau berubah…”
Mungkin ada di antara kita yang pernah bahkan sering mendengar kalimat-kalimat seperti itu. Sebuah keinginan untuk berbenah dari kehidupan yang belum terarah karena salah kaprah. Salah kaprah dalam berpikir, bersikap dan bertindak, sehingga hidupnya terisi dengan hal-hal yang kurang produktif. Menyia-yiakan uang, waktu, tenaga dan pikiran. Kenapa?
Banyak hal yang menjadi faktor kenapa seseorang hidup seperti air mengalir ikut arus kemana akan membawanya. Tidak peduli tentang masa depannya. Yang penting masa sekarang bisa mereguk kesenangan untuk melepas segala kepenatan kerja, keruwetan masalah keluarga, kekhawatiran tentang usaha dll. Bersenang-senang selagi muda, selagi masih ada tak mau ribet tentang nantinya. Yang penting happy dan happy.
Kebahagiaan menyertainya. Hidup glamour di kota metropolitan sebesar Hong Kong sangat menyenangkan, menggairahkan, meyilaukan dan dielu-elukan oleh sebagian orang, terlepas bagaimana cara mendapatkannya. Berpesta pora, berbelanja sesuatu mengikuti tren yang ada, berganti HP yang terbaru dan tercanggih agar kelihatan wah dari yang lainnya. Uang kurang ,tempat peminjaman selalu welcome terbuka dengan persyaratan yang mudah. Mau apa lagi? Hidup cuma sekali harus dinikmati oei….! Mungkin ini yang menjadi pemikirannya. Simple!
Benarkah sesimple itu? Ketika usia kita bertambah dan tak kuat lagi bekerja, sedang kita belum punya apa-apa, simplekah itu? Ketika uang kita habis untuk berhura-hura dan tiba-tiba majikan nggak mau kita, simplekah itu? Ketika kesehatan kita ternganggu karena suatu penyakit yang kita indap yang disebabkan pola makan dan pola hidup salah, lalu majikan memulangkan kita dalam keadaan ringkih, simplekah itu? Ketika kita lupa kodrat kita yang sesungguhnya lalu terjerumus pada kehidupan ab normal dan keluarga tahu lalu mengucilkan kita, simplekah itu? Ketika kita dikejar-kejar deep kolektor karena nggak mampu bayar cicilan utang di bank yang akhirnya diterminate, simplekah itu? Jawablah dengan jujur!
Masihkan kita akan berkata dengan bangganya “I’m happyyy……..!!!”
Penyesalan tiada guna, menangis air mata darah pun percuma. Tinggal keping-keping derita yang tersisa. Masa depan tetap bahkan semakin suram. Niat untuk kaya, sukses dan bahagia tinggal isapan jempol belaka. Waktu yang telah berlalu tak mungkin kembali pula. Mau menyalahkan siapa? Kawan, majikan, situasi dan kondisi, keluarga atau mungkin diri sendiri? Tak ada sesuatupun yang ingin disalahkan walau itu diri sendiri. Akan ada sanggahan-sanggahan yang oleh sebagian orang dikatakan sebagai suara hati, dan sedikit sekali yang mendengarkan ketika suara-suara itu muncul mengingatkan, jauh-jauh hari sebelum mengalami kejatuhan.
Ketika suara itu menegur untuk melakukan hal yang baik, benar dan berguna, tidak dipedulikan malah diremehkan. Ditekan dan dibantah dengan argumentasi-argumentasi yang akhirnya justru membuat diri sendiri terjatuh dalam kubangan penderitaan dan kehinaan. Apa yang didapat dalam kehidupan berbanding lurus dengan apa yang lakukan oleh seseorang. Gaji dibelanjakan untuk apa, waktu luang diisi dengan kegiatan apa, komunitas macam mana yang menjadi tujuan saat liburan dll. Faktor-faktor ini sebagai pendukung perolehan dalam hidup yang dilakoni, maju atau mundur, sukses atau gagal, bangkrut atau berjaya. Tindakan turut andil didalamnya, sayangnya tidak disadari. Menuruti ajakan-ajakan yang sepintas lalu indah, bahagia dan nikmat. Terlena, terpesona, terkesima dibuatnya. Terbuai hingga kita lupa diri, tepatnya lupa tujuan hidup.
Kawan, ada banyak orang ingin berubah ketika merasakan hidupnya hambar, galau dan stagnan. Namun sayangnya, ia tetap melakukan tindakan yang sama dari tahun ke tahun, meskipun ia sadar bahwa apa yang dilakukannya tidak mendukung keinginannya untuk berubah. Ia tetap membiarkan hidupnya dihandle orang lain, situasi dan kondisi. Tidak mau membuka pikiran dan hati hanya sekedar berkata ingin. Ini hanya mimpi yang tidak akan pernah terwujud!
Perubahan dalam berbagai aspek kehidupan akan terwujud bila kita melakukan hal-hal yang mendukung keinginan untuk berubah. Tidak cukup hanya dengan omongan. Tidak lagi menjadikan apapun keadaannya sebagai alasan tetapi menjadikan keadaan tersebut sebagai pendorong untuk terus maju. Seperti kata pepatah, “Orang sukses selalu kelebihan satu cara dan orang gagal selalu kelebihan satu alasan”. Sukses meliputi banyak hal. Bisa merubah kehidupan yang dulunya porak poranda menjadi lebih tertata, adalah kesuksesan. Kawan, mari kita sejenak bertanya kepada diri sendiri, kualitas seperti apa yang kita ingini. Kita cross check, semua tindakan keseharian kita, apakah mendukung kualitas hidup kita atau justru menghancurkannya. Apa yang menjadi pilihan kita, itulah hidup kita.
DIMUAT DI TABLOID APA KABAR
