
Single mom/single parent adalah istilah bagi wanita yang melakukan tugas rangkap sebagai orang tua (ayah-ibu). Kesendiriannya bisa dikarena beberapa hal, seperti : tinggal terpisah karena pasangannya kerja/sekolah di luar kota, perceraian dan kematian pasangan.
Banyak single mom/single parent yang memutuskan untuk merantau ke Luar Negeri untuk mencukupi kebutuhan hidup. Di awal memang terasa berat meninggalkan tanggung jawab pendidikan, pengawasan bila ia memiliki anak. Namun pada akhirnya terbiasa dengan rutinitas kerja sebagai bentuk tanggungjawab tunggal keluarga.
Menjadi single mom/single parent, memang gampang-gampang susah, selalu menjadi sorotan publik. Bukan hanya statusnya tapi juga anak-anaknya. Membesarkan anak dengan pasangan saja terkadang masih susah, apalagi sendirian, harus membutuhkan tenaga ekstra. Salah sedikit saja menjadi bahan obrolan seantero dunia.
Pada dasarnya, tidak ada wanita yang ingin menjadi single mom/single parent, namun pada akhirnya, status itu bisa menimpa siapa saja. Baik disengaja maupun tidak. Banyak saya lihat dan dengar seorang BMI memutuskan untuk menjadi single mom/single parent karena suaminya selingkuh atau dianya sendiri yang selingkuh. Dengan segala kemudahan, kenyamanan dan uang yang didapat di tempat kerja. Chatting, telpon, facebook, sms, adalah sarana mudah untuk menjalin sebuah komunikasi jarak jauh dengan seseorang. Namun, bila kita menyadari posisi kita sebagai wanita yang sudah bersuami, hal-hal ini bisa dihindari. Rasa jenuh, bosan, rindu, kesepian bisa disiasati dengan kesibukan-kesibukan positif yang lebih membawa arti.
Dirantau bukan hanya bekerja mengumpulkan uang, namun lebih dari itu, bisa belajar banyak hal. Tidak menutup kemungkinan, kita menemukan peluang kerja yang bisa ditindaklanjuti sehingga tidak perlu berlama-lama dirantau. Semua tinggal bagaimana kita menyingkapi. Ditambah dengan keimanan kita sebagai hamba Tuhan tentang pertanggungjawaban sebagai istri. Menyakini, bahwa Tuhan selalu melihat gerak-gerik kita. Saling menjaga dan sabar, bahwa perpisahan ini hanya sementara saja. Demikian pula bagi suami yang ditinggalkan istrinya merantau. Sebab tugas istri bukanlah bekerja! Selayaknya, hasil kerja istri dipergunakan sebaik mungkin.
Sangat sederhana dan simple namun faktanya, banyak orang memilih yang ruwet-ruwet. Kadang saya tak habis pikir, mendengar percakapan orang yang duduk disebelah saya dikendaraan umum. Dengan bangganya memperkenalkan pacar barunya kepada temannya. Ketika diingatkan, dengan suara enteng berkata," Hanya untuk hiburan". Ironis!
Melakukan hal sia-sia, membuang uang hanya untuk menuruti kesenangan sesaat.
Lalu saya juga melihat, ada banyak single parent/single mom yang setiap waktu mengeluh dengan nasibnya. Terfokus pada masalah yang menimpa tanpa menemukan solusi. Tentu saja terkungkung masalah karena tetap melakukan hal yang sama. Padahal kalau ia mau, bisa menambah pengetahuan dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang membangun. Bukankah Tuhan menciptakan kita dalam keadaan paling sempurna dari makhluk ciptaanNya yang lain? Lagi-lagi ini hanya masalah sikap! Banyak single mom/single parent yang bisa mandiri, kenapa kita tidak belajar dari mereka?
Single mom/single parent bukanlah suatu kondisi yang membuat kita lemah, namun justru suatu kondisi dimana kita harus bangkit dengan mengoptimalkan segala potensi yang ada. Hindari hal-hal yang bisa menimbulkan fitnah baik bagi diri sendiri maupun keluarga. Tetap percaya, bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan selama masih tetap di jalan Tuhan. Menjadi single mom/single parent akan lebih mudah bila kita tahu strateginya. Jadikanlah diri kita sebagai penggerak diri sendiri bukan menunggu uluran/bantuan dari orang lain karena itu akan melemahkan semangat kita. Menjadikan kita bermental pengemis.
(Tsuen Wan;21 Maret 2012)