Rabu, 21 Maret 2012

Impian Yang Terwujud Nyata

Awalnya bermula dari sebuah tulisan yang menarik hati saya untuk memulai menulis, tepatnya tahun 2009. Berbagai proses yang tak mengenakkan saya alami. Kecewa, itu pasti. Sedih, juga iya. Namun saya berpikir, ketika saya terlarut dalam kondisi yang seperti itu, bisakan maju? Tidak! Itu jawabannya. Akhirnya, saya putuskan, apapun yang terjadi, tetap jalan!
Segala upaya saya lalui, jatuh bangun menjadi hal yang biasa. Satu tekad, saya harus bisa! Keinginan kuat dalam diri memotivasi untuk terus dan terus melakukan sampai bisa. Tidak mudah! Dan syukurlah, dengan selalu menjaga semangat belajar lalu merealisasikan apa yang sudah dipelajari dalam kehidupan sehari-hari, menjadi satu vitamin kekuatan untuk bergerak. Yach, hidup identik dengan gerak! Waktupun terus bergulir...
Tak terasa empat tahun berlalu. Keinginan yang terpatri dalam hati semakin bisa saya nikmati. Dan yang lebih membahagiakan lagi, pun bisa dinikmati orang lain. Keinginan yang begitu kuat itu, mengalir di setiap aliran darah, meresap ke seluruh urat dan syaraf yang ada dalam tubuh, kuat! Saya menyintainya! Dari situ saya temukan satu kekuatan, satu energi yang begitu dalam nikmatnya. Dan ketika saya mengetahui, ada satu hal bak untuk sebuah perjalanan hidup seorang manusia bisa saya dapatkan, kekuatan itu semakin merentaskan segala kemalasan yang kadang muncul.
Dengan itu, saya bisa membagikan sesuatu yang bernilai, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Dengan itu, ada satu hal yang bisa saya rasakan: kepuasan!
Bukan ketika orang memuji atau bangga serta terkenalnya nama saya, namun lebih dari itu. Sesuatu yang tidak bisa diukur dengan uang, yaitu :perubahan!
Berubah dengan kesadaran penuh bukan hanya sekedar ikut-ikutan atau sungkan. Berubah menjadi baik bahkan yang terbaik, menjadi seorang manusia yang menemukan dirinya kembali.
Masih ada waktu untuk saya terus lakukan itu. meningkatkan, menambahkan, memperluaskan. Menjadi satu catatan bagi anak-anak saya kelak, bahwa saya telah melakukan! Segala apa yang kini ada dalam genggaman, telah saya tuliskan dua tahun lalu. Tidak saya sadari sebuah impian menjadi kenyataan. Dengan sesuatu itu, saya berkembang. Dengan sesuatu itu saya menjadi maju. Dengan sesuatu itu saya menjadi tahu. Dan dengan sesuatu itu, saya bisa.
Sesuatu itu adalah :menulis!

Selasa, 20 Maret 2012

Single mom/single parent

Single mom/single parent adalah istilah bagi wanita yang melakukan tugas rangkap sebagai orang tua (ayah-ibu). Kesendiriannya bisa dikarena beberapa hal, seperti : tinggal terpisah karena pasangannya kerja/sekolah di luar kota, perceraian dan kematian pasangan.


Banyak single mom/single parent yang memutuskan untuk merantau ke Luar Negeri untuk mencukupi kebutuhan hidup. Di awal memang terasa berat meninggalkan tanggung jawab pendidikan, pengawasan bila ia memiliki anak. Namun pada akhirnya terbiasa dengan rutinitas kerja sebagai bentuk tanggungjawab tunggal keluarga.


Menjadi single mom/single parent, memang gampang-gampang susah, selalu menjadi sorotan publik. Bukan hanya statusnya tapi juga anak-anaknya. Membesarkan anak dengan pasangan saja terkadang masih susah, apalagi sendirian, harus membutuhkan tenaga ekstra. Salah sedikit saja menjadi bahan obrolan seantero dunia.


Pada dasarnya, tidak ada wanita yang ingin menjadi single mom/single parent, namun pada akhirnya, status itu bisa menimpa siapa saja. Baik disengaja maupun tidak. Banyak saya lihat dan dengar seorang BMI memutuskan untuk menjadi single mom/single parent karena suaminya selingkuh atau dianya sendiri yang selingkuh. Dengan segala kemudahan, kenyamanan dan uang yang didapat di tempat kerja. Chatting, telpon, facebook, sms, adalah sarana mudah untuk menjalin sebuah komunikasi jarak jauh dengan seseorang. Namun, bila kita menyadari posisi kita sebagai wanita yang sudah bersuami, hal-hal ini bisa dihindari. Rasa jenuh, bosan, rindu, kesepian bisa disiasati dengan kesibukan-kesibukan positif yang lebih membawa arti.


Dirantau bukan hanya bekerja mengumpulkan uang, namun lebih dari itu, bisa belajar banyak hal. Tidak menutup kemungkinan, kita menemukan peluang kerja yang bisa ditindaklanjuti sehingga tidak perlu berlama-lama dirantau. Semua tinggal bagaimana kita menyingkapi. Ditambah dengan keimanan kita sebagai hamba Tuhan tentang pertanggungjawaban sebagai istri. Menyakini, bahwa Tuhan selalu melihat gerak-gerik kita. Saling menjaga dan sabar, bahwa perpisahan ini hanya sementara saja. Demikian pula bagi suami yang ditinggalkan istrinya merantau. Sebab tugas istri bukanlah bekerja! Selayaknya, hasil kerja istri dipergunakan sebaik mungkin.


Sangat sederhana dan simple namun faktanya, banyak orang memilih yang ruwet-ruwet. Kadang saya tak habis pikir, mendengar percakapan orang yang duduk disebelah saya dikendaraan umum. Dengan bangganya memperkenalkan pacar barunya kepada temannya. Ketika diingatkan, dengan suara enteng berkata," Hanya untuk hiburan". Ironis!


Melakukan hal sia-sia, membuang uang hanya untuk menuruti kesenangan sesaat.


Lalu saya juga melihat, ada banyak single parent/single mom yang setiap waktu mengeluh dengan nasibnya. Terfokus pada masalah yang menimpa tanpa menemukan solusi. Tentu saja terkungkung masalah karena tetap melakukan hal yang sama. Padahal kalau ia mau, bisa menambah pengetahuan dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang membangun. Bukankah Tuhan menciptakan kita dalam keadaan paling sempurna dari makhluk ciptaanNya yang lain? Lagi-lagi ini hanya masalah sikap! Banyak single mom/single parent yang bisa mandiri, kenapa kita tidak belajar dari mereka?


Single mom/single parent bukanlah suatu kondisi yang membuat kita lemah, namun justru suatu kondisi dimana kita harus bangkit dengan mengoptimalkan segala potensi yang ada. Hindari hal-hal yang bisa menimbulkan fitnah baik bagi diri sendiri maupun keluarga. Tetap percaya, bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan selama masih tetap di jalan Tuhan. Menjadi single mom/single parent akan lebih mudah bila kita tahu strateginya. Jadikanlah diri kita sebagai penggerak diri sendiri bukan menunggu uluran/bantuan dari orang lain karena itu akan melemahkan semangat kita. Menjadikan kita bermental pengemis.


(Tsuen Wan;21 Maret 2012)
















Modal Dasar Seorang Entrepreneurship

Bila kita bekerja hanya untuk mendapatkan uang saja, maka itulah yang akan didapat tak lebih!

Namun bila kita bekerja dengan alasan untuk mencarai pengalaman, maka yang didapat lebih dari sekedar uang. Kita mampu menyintai pekerjaan dengan sepenuh hati. Tidak ada keluh dan kesah dalam menjalani rutinitas kerja.
Pekerjaan di majikan merupakan ilmu dan pengalaman yang berguna serta tinggi nilanya. Ini merupakan pelatihan skill bagi kita untuk menjadi lebih baik dari hari kemarin, mis: kedisiplinan, kejujuran, kekreativan, kesabaran serta keuletan.Ternyata semua ini adalah modal dasar menjadi seorang entrepreneurship.
Ketika kita mendapat teguran dari majikan, pastinya kita jengkel bahkan ada yang uring-uringan. Mengadu kepada setiap orang yang ditemui mencari sekutu dan pembenaran pribadi. Apa yang kita rasakan saat melakukan hal itu? Kepuasaan sesaat bukan? Setelahnya kita akan berpacu dalam beban emosi yang berkepanjangan. Untuk menghindari hal itu, maka yang harus kita lakukan adalah mengubah pola pikir tentang makna teguran.
Teguran adalah peluang dan kesempatan untuk belajar menjadi tahu. Kita akan mendapat kekuatan untuk maju. Kekuatan yang belum tersentuh dan ini tidak semua orang tahu. Lalu apa yang harus kita lakukan saat mendapat teguran dari majikan? Anggaplah kita sedang bersekolah (menggunakan teguran dari majikan sebagai pelajaran di sekolah).
"Hati saya ada dimana?" ini merupakan satu pertanyaan ampuh buat menumbuhkan serta meningkatkan rasa tanggungjawab pada pekerjaan. Kita akan menyintainya dengan sepenuh hati dan ketika cinta itu telah berlabuh, seberat apapun beban yang disandang akan terasa ringan bahkan hilang sama sekali. Coba ingat kembali, ketika kita sedang menyintai seseorang, sudah pasti kita mau melakukan segala sesuatunya dengan senang hati. Cinta menumbuhkan semangat kerja yang tinggi. Cinta melahirkan prestasi ingin memberikan yang terbaik pada apa yang dicintainya.
Kesulitan atau rintangan di tempat kerja akan mendorong kita menjadi orang yang kreatif. Kenapa? Karena kesulitan itu memotivasi kita untuk belajar mencari solusi. Dalam pemcarian solusi tersebut, kita akan banyak menemukan jawaban-jawaban yang sebelumnya tidak terlintas dalam pikiran. Kita bertemu dan memiliki wacana serta ilmu baru. Pengalaman kita bertambah apapun bentuknya seberapapun besarnya. Kita akan terbiasa dengan tantangan yang menjadikan kita tumbuh menjadi seorang pemberani dan kreatif.
Pernahkah kita dongkol karena dituduh melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak kita lakukan oleh majikan? Ketika itu terjadi, kita akan mengantongi persepsi bahwa majikan tidak percaya sama kita. Rasa tidak percaya ini akan menimbulkan kecurigaan yang tentunya membuat kita risih bahkan emosi. Pernahkah terpikirkan oleh kita, bahwa kecurigaan itu adalah sarana untuk kita belajar jujur? Memiliki integritas kepada diri sendiri merupakan satu komponen yang dibutuhkan untuk menjadi seorang entrepreneurship. Tanpa kejujuran/integritas, tidak menutup kemungkinan kita akan menjadi seorang koruptor!
Adakah di antara majikan kita yang menerapkan jam kerja? Pasti banyak sekali ya?! Karena salah satu ciri orang Hong Kong adalah disiplin waktu. Coba kita perhatikan, saat mereka bekerja, bukankah tergesa-gesa diburu waktu serasa dikejar hantu? Peraturan jam kerja ini seringkali membuat kita rikuh dan merasa terkekang! Lalu bagaimana kita menyingkapinya? Mudah saja, sikap ini sebenarnya adalah sarana buat kita belajar menjadi disiplin dengan menghargai waktu. Waktu kita sama, namun yang membedakan adalah kita gunakan untuk apa waktu tersebut. Masih banyak di antara kita yang mengusung aji mumpung dengan menyia-yiakan waktu yang ada untuk hal-hal yang kurang efisien.
Dan banyak lagi kendala, rintangan dan hambatan yang harus kita hadapi di rumah majikan. Ada yang galak, cerewet, curigaan dan temperamen/suka marah. Semua ini menyakitkan bahkan terkadang membuat kita stress. Namun sebenarnya, bila kita mau menelaah jauh ke dalam, ketidaknyamanan ini akan membuat kita orang yang sabar dan ulet. Bagaimana kita bisa berinteraksi dengan orang lain. Keuntungan yang didapat adalah, kita mampu mengenali bermacam-macam karakter.
Semua yang kita bahas di atas merupakan pembelajaran yang sangat penting. Itu adalah materi yang diajarkan kepada para direktur dan pejabat tinggi yang ternyata kita telah memperolehnya di rumah majikan. Sekarang tiba saatnya kita berhenti berpikir," Saya seorang pembantu", tapi kita ganti dengan "Saya seorang BMI yang sedang belajar menjadi entrepreneurship di sekolah kehidupan di Hong kong". Berpikir tentang majikan "melayani dengan sempurna/baik penuh tanggungjawab"
Memiliki rasa percaya diri yang baik, yaitu dengan mengetahui kelemahan dan kelebihan diri sendiri serta mau menerima diri apa adanya.
Sekali lagi, kita mengingat pekerjaan, anggaplah sedang belajar. Banyak perusahaan yang mencari orang-orang seperti kita. Punya keberanian, ketrampilan, kejujuran, kesabaran dan kedisiplinan. Mereka berani membayar mahal semua itu.


*Penulis terinspirasi saat mengikuti pelatihan entrepreneurship yang diadakan oleh Bank Mandiri bekerja sama dengan UCEC*


*Dimuat di Koran PEDULI Hong Kong*